April 22, 2021
Tantangan Pendidik di Masa Pandemi Covid-19

Tantangan Pendidik di Masa Pandemi Covid-19

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Terhitung sejak 2 Maret 2020, Indonesia bersahabat dengan pandemi Covid-19 dan sampai saat inipun tanda penurunan belum muncul secara signifikan justru terdapat peningkatan di setiap harinya. Kesiapan Pendidik dituntut harus mampu melakukan pembelajaran dalam situasi apapun.

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Terhitung sejak 2 Maret 2020, Indonesia bersahabat secara pandemi Covid-19 dan sampai saat inipun tanda penurunan belum muncul secara signifikan justru terdapat peningkatan setiap harinya. Kesiapan Pendidik dituntut harus mampu melakukan pembelajaran di kondisi apapun.

Sudah hampir setahun hidup berdampingan dengan virus yang awalnya muncul di kota Wuhan China ini. Strategi dalam menekan angka penyebaran Covid-19 dalam bentuk tes coba vaksin, kebijakan pembatasan kegiatan berkumpul dalam skala besar serta penerapan protokol kesehatan masih belum menunjukkan hasil yang maksimal.

Pandemi dengan disebabakan virus Covid-19 memberikan dampak  perubahan bagi segala sektor kehidupan termasuk dalam sektor pendidikan. Penyelenggaraan pembelajaran secara tatap muka kudu diganti dengan pembelajaran berbasis internet. Tidak ada lagi aktivitas pembelajaran di ruang-ruang kelas sebagaimana populer dilakukan oleh tenaga pendidik seolah-olah guru ataupun dosen guna mengurangi penyebaran virus.

Kegiatan pembelajaran secara daring atau pembelajaran jarak jauh (PJJ) ini dilakukan oleh berbagai tingkatan jenjang pendidikan mulai dari jenjang Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Pokok (SD) sederajat, Sekolah Menengah Mula-mula (SMP) sederajat, Sekolah Menengah Berasaskan (SMA) sederajat, hingga sekolah tinggi berlandaskan Kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Berbagai kritik dan protespun bermunculan terkait kebijakan tersebut, mulai dari belum adanya kesiapan tenaga pendidik dalam menyiapkan sarana penelaahan, kualitas jaringan internet yang belum merata, hingga mahalnya biaya pembelian kuota. Meskipun demikian, PJJ lestari dilaksanakan sebagai “solusi tentatif” perlu keberlangsungan pendidikan.

Saat ini pemerintah menimbulkan surat keputusan bersama (SKB) 4 menteri, yakni Menteri Pendidikan & Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri menerjang panduan penyelenggaran pembelajaran pada semester genap tahun akademik 2020/2021 pada masa pandemi covid-19. Dalam SKB yang dikeluarkan pada 20 November 2020 tersebut, pemerintah memberikan kewenangan pada pemerintah daerah untuk penelaahan tatap muka atau luring dengan mulai berlaku per Januari 2021. Artinya, saat ini pembukaan sekolah tidak lagi berdasarkan zonasi risiko yang disusun oleh satgas covid-19 sebagaimana kebijakan yang pernah ditetapkan pada bulan Agustus lalu.

Sayangnya, kecendekiaan tersebut menimbulkan polemik dan dilema, terutama orang tua. Mereka menganggap pemerintah terlalu terburu-buru dalam menyingkirkan kebijakan tersebut. Hal ini dikarenakan tren kasus covid-19 yang malah terus meningkat setiap harinya, vaksin yang masih belum ditemukan had kekhawatiran adanya pelanggaran protokol kesehatan karena minimnya pengawasan. Fakta menunjukkan bahwa banyak sekolah yang awalnya dibuka untuk proses pembelajaran tatap muka terpaksa harus ditutup balik dalam hitungan hari dikarenakan adanya penemuan kasus positif covid-19 sama dengan yang terjadi di Banyumas, Padang, Pangandaran, Jepara, dsb.

Hal ini tentu semakin membuat orang tua menjelma ragu dan berat hati untuk mengizinkan buah hatinya mengikuti penelaahan tatap muka. Sementara itu, bagi sebagian yang menyetujui aturan menghantam kebijakan pembelajaran tatap muka berdasar pada kejenuhan anak, stres akibat banyaknya tugas, kesenjangan antar sekolah, hingga munculnya kekerasan. Tidak cuma orang tua namun pendidik juga terkena dampak dari kondisi itu.

Jadi garda terdepan dalam keberhasilan penelaahan, seorang pendidik harus adaptif dengan perubahan dunia yang terjadi saat ini. Kreatifitas, inovasi, dan melek digital menjadi keharusan bagi gaya pendidik. Pendidik dituntut untuk menyajikan pembelajaran yang menarik, menyenangkan, mengikuti mudah dipahami agar capaian penelaahan dapat terlaksana dengan baik. Di tengah pandemi ini, peran para pendidik tidak hanya sekedar mentransmisi pengetahuan serta keterampilan saja namun juga memastikan kesehatan mental serta penanaman karakter peserta didik.

Dalam iklim seperti ini, kita jadi menyadari bahwa keberadaan tenaga pendidik tidak bisa tergantikan oleh teknologi secanggih apapun. Beban yang tidak mudah-mudahan ini tentu tidak bisa dipikul sendirian. Perlu adanya penyesuaian kurikulum serta sinergi dari seluruh bagian agar hasil pembelajaran yang diperoleh maksimal.

Peningkatan kompetensi guru, terutama di dalam literasi digital nampaknya perlu menjelma perhatian penting dikarenakan saat tersebut pembelajaran konvensional telah bertransformasi menjadi pembelajaran virtual. Maka, berbagai pelatihan pembelajaran berbasis internet dengan memanfaat berbagai aplikasi perlu digalakkan. Selain itu, pemilihan strategi pembelajaran yang tepat juga bisa dilakukan oleh guru untuk meningkatkan pemahaman dan hasil belajar seperti penggunaan strategi pembelajaran berbasis proyek, strategi pembelajaran kontekstual, strategi pembelajaran inkuiri, serta sebagainya.

Penggunaan media pembelajaran yang akseptibel untuk ketercapaian tujuan pembelajaran, misalnya apakah menggunakan WhatsApp, Telegram, Zoom, Google Classroom, You Tube, dan sebagainya.

Kemudian, sumber belajar yang mudah diperoleh bisa menjadi pertimbangan guru pada melakukan pengajaran, misalnya buku, dunia sekitar, peristiwa yang sedang terjadi, dll. Segala kreativitas guru di memilah strategi, metode, media, mengikuti sumber belajar sangat berperan istimewa dalam optimalisasi pembelajaran. Tidak roboh pentingnya, guru yang kreatif & inovatif juga senantiasa melakukan evaluasi diri agar memperoleh umpan balik (feedback) terhadap proses pembelajaran beserta mengatasi problem pembelajaran yang terlihat. Pengajaran daring tidak menyulitkan kalau pendidik dapat merespon dan bertemu dengan sikap yang tepat menjadi metode pembelajaran yang efektif dan efisien.

Akhirnya, demi kebaikan bersama dan keberlangsungan generasi bangsa, pendidik dalam masa pandemi covid-19 harus selalu mematuhi dan menerapkan protokol kesehatan tubuh dengan 3 M, yakni mencantumkan masker, mencuci tangan, dan memelihara jarak. (*)

*) Setia: Pryla Rochmah Wati, M. Pd, Penulis adalah Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Ponorogo; Saat ini sedang menempuh Kalender Doktoral Ilmu Pendidikan Bahasa dalam Universitas Negeri Semarang

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia. co. id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang tulisan maksimal 4. 000 karakter ataupun sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang mampu dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia. co. id

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.