July 27, 2021
Sekolah tinggi Dibolehkan Kuliah Tatap Muka, Ini Persyaratannya

Sekolah tinggi Dibolehkan Kuliah Tatap Muka, Ini Persyaratannya

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi perguruan tinggi dalam hal persiapan, pelaksanaan, dan pemantauan pembelajaran tatap muka. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud RI), Nizam menerangkan sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi.

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi perguruan tinggi dalam hal persiapan, pelaksanaan, lalu pemantauan pembelajaran tatap muka. Pimpinan Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud RI), Nizam menjelaskan sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi.

Pertama, dalam hal persiapan, yang harus dilakukan yakni: perguruan tinggi harus mendapatkan rekomendasi atau berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota setempat melalui satuan tugas penanganan Covid-19. Kemudian,   perguruan tinggi hanya diperbolehkan menyelenggarakan kegiatan kurikuler melalui pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Selanjutnya, perguruan tinggi menfasilitasi sarana dan prasarana pembelajaran campuran (hybrid learning) bagi mahasiswa yang belajar secara daring serta dosen yang mengajar secara daring. Selanjutnya, perguruan tinggi telah siap mengaplikasikan protokol kesehatan sebagaimana ditetapkan dalam keputusan bersama di atas dan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK. 01. 07/MENKES/413/2020 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Covid-19.

Berikutnya, perguruan tinggi juga harus membentuk satuan tugas penanganan Covid-19 di perguruan tinggi untuk menyusun dan menerapkan standar operasional prosedur protokol kesehatan.

“Pemimpin perguruan tinggi menerbitkan pedoman pembelajaran, wisuda, maupun kegiatan lainnya bagi civitas akademika dan tenaga kependidikan pada lingkungan perguruan tinggi, ” ujar Nizam dalam keterangan tertulis, Kamis (3/12/2020).

Kedua, dalam hal pelaksanaan pembelajaran tatap muka, ada sejumlah kewajiban yang harus dilakukan perguruan tinggi, di antaranya: melaporkan penyelenggaraan pembelajaran kepada satuan tugas penanganan Covid-19 secara rutin; civitas akademika dan tenaga kependidikan yang melakukan aktivitas di kampus harus memenuhi kriteria seperti kondisi sehat, dapat mengelola dan mengontrol bagi yang mempunyai penyakit penyerta (comorbid).

“Khusus mahasiswa yg berusia di bawah 21 tahun harus mendapat persetujuan dari jamaah tua/wali atau pihak yang menanggungnya, ” ujar Nizam.

Sementara, bagi mahasiswa yang tidak bersedia melakukan pembelajaran tatap muka dapat memilih pembelajaran secara daring. Bagi mahasiswa dari luar daerah/luar negeri wajib memastikan diri dalam keadaan sehat, proses karantina mandiri selama 14 hari atau melakukan tes usap (swab), atau sesuai peraturan/protokol yang berlaku di daerah.

Kemendikbud juga mensyaratkan panduan melakukan tindakan pencegahan penyebaran Covid-19, antara lain: pengecekan suhu tubuh bagi setiap orang yang log in perguruan tinggi; menghindari penggunaan cara pembelajaran yang tertutup, menimbulkan kerumunan, dan terjadinya kontak jarak dekat; meniadakan kegiatan dan ruang yg berpotensi mengundang kerumunan (kantin, co-working space, kegiatan kokurikuler dan ekstra kurikuler, dan sebagainya).

Selanjutnya, menyediakan tempat cuci tangan/hand sanitizer di tempat-tempat strategis; menerapkan penggunaan masker kain 3 (tiga) lapis atau masker medis sekali pakai sesuai standar kesehatan; menerapkan jaga jarak minimal 1, 5 meter antar jamaah; membatasi penggunaan ruang maksimal fifty persen kapasitas ruangan/kelas/laboratorium dan maksimal 25 orang.

Kemudian, menerapkan upaya saling peduli, saling menjaga dan melindungi; menerapkan etika batuk/bersin yang benar; menyediakan ruang isolasi sementara bagi civitas akademika dan tenaga kependidikan yang memiliki gejala/kriteria Covid-19; menyiapkan mekanisme penanganan temuan kasus Covid-19 di lingkungan perguruan tinggi baik bagi yang bersangkutan maupun get in touch with tracing; menyiapkan dukungan tindakan kedaruratan penanganan Covid-19; dan melaporkan kepada satuan gugus tugas penanganan Covid-19 daerah setempat apabila ditemukan kasus Covid-19.

Dalam hal ditemukan kasus konfirmasi positif Covid-19 di perguruan tinggi, pemimpin perguruan tinggi menghentikan sementara pembelajaran tatap muka, sampai kondisi aman. Lalu, dalam hal terjadi peningkatan status peningkatan resiko Covid-19 di kabupaten/kota, pemimpin perguruan tinggi berkoordinasi dengan satuan tugas penanganan Covid-19 setempat untuk melanjutkan atau menghentikan pembelajaran tatap muka.

“Apabila memiliki kondisi khusus atau permintaan dri pemerintah provinsi/kabupaten/kota, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi dapat memberhentikan pembelajaran tatap muka pada perguruan tinggi, ” ujar Nizam.

Ketiga, dalam rangka pemantauan, perguruan tinggi harus menegakkan standar operasional prosedur protokol kesehatan serta melakukan pemantauan dan evaluasi sebagaiselaku, ala, menurut, berkala terhadap pelaksanaan standar operasional prosedur penegakan protokol kesehatan.  

“Selain itu, perguruan tinggi diharapkan meraih saling berbagi pengalaman dan praktik baik dalam penyelenggaraan pembelajaran campuran selama masa pandemi Covid-19, ” terang Nizam dari Kemendikbud RI. (*)