April 22, 2021
Nusantara Butuhkan Generasi Muda Berideologi Pancasila dan Berjiwa Kesatria

Nusantara Butuhkan Generasi Muda Berideologi Pancasila dan Berjiwa Kesatria

TIMESINDONESIA, JAKARTA – "Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih suram karena melawan bangsamu sendiri". (Ir. Soekarno, Presiden RI ke I) Generasi Muda adalah generasi penerus bangsa, sebagai agent of change atau agen perubahan. Artinya kalau pemuda sebenarnya memiliki peranan buat menjadi pusat dari kemajuan marga itu sendiri.

TIMESINDONESIA, JAKARTA – “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”. (Ir. Soekarno, Presiden RI ke I)

Generasi Muda adalah generasi penerus bangsa, sebagai agent of change atau agen perubahan. Artinya bahwa pemuda sebenarnya memiliki peranan untuk menjadi pusat dari kemajuan bangsa itu sendiri.

Sedih melihat kondisi Negara yang kita cintai ini menjelma carut marut. Permasalahan Radikalisme merajalela, keterlibatan mantan pemimpin Negara dalam dunia Politik bahkan sampai berlaku Anarkhis. Kalau ingin bermain politik, Bermainlah politik yang santun & tidak menghalalkan segala cara, karena ini merusak karakter Generasi Muda anak Bangsa. Merusak karakter Generasi Muda anak bangsa berarti serupa dengan merusak Bangsanya sendiri,   merusak kehidupan yang akan datang dan Negara ini akan jauh dan hilang dihempas kebodohan kita sendiri.

Bersikap santun itu sudah menjadi bagian dari Ciri Khas/(trade mark) kehidupan Bangsa Indonesia. Ini telah mendunia, bahkan Negara lain tetap mengatakan Indonesia adalah negara dengan kaya akan sumber daya Zona dan memiliki masyarakat yang ramah dan bersahabat. Sikap inilah yang harus terus kita tanamkan ke anak cucu kita, jangan justru kita ingin seperti Negara Aneh / lain sehingga kita merubah budaya khas Indonesia dengan adat Asing yang tidak sesuai ciri masyarakat Indonesia.  

Jangan jadikan Negara kita Negara Arab, Cina, India dst. Karena Negara Indonesia merupakan Negara yang besar, Negara dengan mempunyai karakter dan budaya dengan hebat dari pada Negara lain, Saat ini Generasi Muda kita diberi contoh yang tidak cara dan tidak sesuai dengan leter anak Bangsa. Yang selama tersebut kita anggap sebagai Negarawan yang menjadi panutan Generasi Muda kita saat ini. Sosok mantan Pimpinan Negara dan pengusaha serta menjadi Ketua Umum salah satu misi Kemanusiaan Dunia dan   masa ini termonitor atau di tengarai ikut terlibat dalam politik datang ke ranah Radikalisme.

Inilah yang harus kita waspada dan pandai di dalam menyikapi hal-hal yang menyebabkan pecahnya persatuan dan kesatuan Bangsa.
Awalnya Semua masyarakat tidak mencurigai kiprahnya yang tampak seorang dengan bisa menjadi contoh dan tauladan. Dalam masa setelah selesai menjabat ternyata ada kepentingan untuk melawan pemerintahan saat ini.

Mungkin kasus bagaikan ini wajar, apalagi di Dunia Politik yang semua harus terwujud untuk Golongan nya. Tetapi untuk mencapai Tujuan tersebut bukan bermakna menghalalkan dengan segala cara, makin Menggadaikan Martabat dan Ideologi yang berdampak ke generasi berikutnya / orang lain.

Generasi Muda itu Generasi yang kedepan menjadi bukti sah suatu bangsa itu bermartabat ataupun tidak, menjadi bukti sejarah dengan tidak akan bisa tergantikan sebab apapun. Karena Menciptakan Generasi bujang merupakan pekerjaan yang tidak mudah-mudahan, bahkan membutuhkan effort   dengan sangat besar.

Karakter Generasi Muda di suatu Negara saat ini merupakan wujud dari kondisi Negara saat itu. Suatu Negara yg lulus secara tidak langsung selalu mengindahkan Generasi muda nya. Dengan cara memperhatikan pola didik dan pola asuh terhadap Generasi Muda Tersebut. Bahkan pemerintahan saat ini mendahulukan pembangunan kualitas Sumber Daya Pribadi (SDM) yang berlandaskan Pancasila. Semua dilakukan agar muncul penguatan Pancasila di tengah masyarakat.  

Hal tersebut karena sejak Berdirinya Bangsa itu sudah beragam. Beragam suku, keyakinan, ras, dan golongan. Pendiri bangsa menegaskan, bahwa bangsa ini harus tetap   bersatu. Beda suku, beda agama, beda ras, asing golongan, tidak seharusnya jadi pemecah- belah.
 
Kenangan Dunia menunjukkan, begitu banyak bani yang runtuh, karena mereka mempermasalahkan perbedaan seperti itu. Perang saudara, pemusnahan ras, ketidakadilan sosial & pendidikan, begitu banyak tragedi yang terjadi karena umat manusia mempermasalahkan perbedaan yang tidak pantas serta tidak perlu diperselisihkan.

Kebesaran hati & kemampuan bangsa ini untuk me dan menerima perbedaan menjadi lengah satu kunci bagi kebesaran bangsa ini di masa yang mau datang. Karena sejak lahirnya, Indonesia itu bhinneka, beragam, dan bukan seragam.

Untuk mencapai hal tersebut oleh karena itu suatu Negara harus berideologi. Jika kita berbicara Ideologi, kita kudu benar menguasai arti Ideologi. Keterangan Ideologi menurut para ahli, Ialah alat untuk mencapai kesetaraan & kesejahteraan bersama dalam masyarakat. Dan ada beberapa ahli mengatakan   Ideologi adalah kumpulan ide ataupun gagasan atau aqidah ‘aqliyyah (akidah yang sampai melalui proses berpikir) yang melahirkan aturan-aturan dalam kesibukan. Inti dari semua itu adalah kumpulan Ide atau gagasan buat mencapai kesetaraan dan Kesejahteraan.
Sedangkan Ideologi di Indonesia adalah Ideologi Pancasila.

Ideologi Pancasila adalah ajaran yang digunakan oleh Negara Nusantara. Hal ini berarti bahwa seluruh nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari rakyat Indonesia.

Dan Ideologi Pancasila ialah kumpulan nilai dan norma dengan menjadi landasan keyakinan dan cara berpikir untuk mencapai tujuan secara berdasar kepada lima sila pada Pancasila.

Ideologi mempunyai fungsi penting, yaitu menanamkan keyakinan atau kebenaran perjuangan kelompok atau kesatuan yang berpaut teguh pada ideologi itu. Oleh sebab itu ideologi menjadi sumber inspirasi dan sumber citacita hidup bagi para-para seluruh Rakyat nya.

Sehingga negara dengan memiliki Ideologi Pancasila juga memiliki sebuah dasar negara yang bersandarkan Pancasila. Dasar negara menjadi suatu tatanan untuk mengatur penyelenggaraan negara serta menjadi pedoman hidup bernegara.

Oleh sebab itu Pancasila sebagai aliran bangsa dan negara Indonesia, maka Pancasila pada hakikatnya, adalah suatu hasil penuangan atau pemikiran seseorang atau kelompok orang. Sebab Pancasila diangkat dari nilai-nilai adat istiadat, kebudayaan, serta nilai religius, yang terdapat dalam pandangan hidup masyarakat Indonesia.

Peran Pancasila yang paling betul menonjol sejak Indonesia merdeka ialah dalam memper satukan rakyat Nusantara menjadi bangsa yang memiliki budi dan percaya pada diri sendiri. Bangsa Indonesia sebagai bangsa dengan majemuk membutuhkan pembentukan pembangunan sifat bangsa.

Ideologi Pancasila sendiri dirumuskan oleh Panitia Sembilan dan berdasar arah pidato Ir. Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945. Ideologi Pancasila menjadi sangat penting bagi kerabat Indonesia karena Pancasila memiliki kurang kedudukan dalam kehidupan berbangsa & bernegara di Indonesia. Kedudukan tersebut seperti Pancasila sebagai jiwa warga Indonesia, Pancasila sebagai kepribadian kaum Indonesia, Pancasila sebagai nilai keluarga Indonesia, Pancasila menjadi dasar negeri, Pancasila sebagai sumber dari segala hukum yang ada di Nusantara, Pancasila sebagai perjanjian luhur keluarga Indonesia ketika mendirikan negara, dan Pancasila sebagai cita-cita bangsa.  

Kediaman inilah yang menjadikan Pancasila menjadi sangat penting bagi bangsa Indonesia. Kedudukan ini juga dapat diartikan bahwasannya Pancasila merupakan suatu prinsip bagi bangsa Indonesia dalam melakukan segala aspek yang menyangkut kehidupan berbangsa dan bernegara.

Saat ini banyak pimpinan politik yang bermanufer untuk mendapatkan keinginan kelompoknya tanpa mengindahkan dampak yang di perbuat. & yang seharusnya mereka memberikan tiruan dalam pembelajaran politik yang cara ke Generasi Muda.

Dalam menjalan membentuk roda organisasi politik memang penuh cara, sehingga perlu ada rupanya strategi yang akhirnya apa dengan di inginkan dapat tercapai. Untuk itu perlu ada nya Pendidikan yang tidak harus melalui pelajaran formal di kelas, tetapi pendidikan yang langsung di kehidupan di dalam bermasyarakat.

Pendidikan ber karakter dan mindset yang berkesinambungan merupakan kunci. Pelajaran memajukan cara berpikir. Pendidikan membuka wawasan. Pendidikan meningkatkan kemampuan pribadi untuk memahami dan menghargai memperlawankan. Pendidikan karakter dan mindset tak hanya hidup berdasarkan dogma yang bisa saja sudah tidak relevan, dan tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Pendidikan agama selalu amat penting.  

Pendidikan agama sepantasnya membangun rasa kagum, kasih, haru, cinta, dan patuh pada Tuhan. Bukan membentuk sikap bermusuhan, mengalami paling benar, rasa paling nirmala, dan bahkan sampai mendorong pribadi untuk saling membunuh.  

Pendidikan yang baik, adalah pendidikan yang tak hanya mengajarkan ilmu-ilmu eksak atau ilmu pengetahuan dan kompetensi, namun harus di atas itu, memendam values dan membangun karakter serta mindset. Pengetahuan dan kompetensi bakal terus berkembang sejalan dengan status saat itu, tapi values serta mindset akan selalu relevan secara segala jaman, dan akan menjadi pembeda yang sulit ditiru.

Pendidikan untuk generasi penerus adalah salah satu hal terpenting yang harus jadi perhatian bangsa. Bangsa-bangsa besar menaruh mengindahkan dan upaya yang begitu luhur dan bersungguh-sungguh, untuk memastikan kualitas pendidikan. Karena mereka sadar, kalau keberlangsungan, kemandirian, dan kesejahteraan kerabat di masa datang, ditentukan oleh kualitas manusianya dalam hal tersebut oleh generasi muda nya.

Untuk itu kita harus mampu membangun generasi muda kita yang lebih hebat dan pandai dari kita dan kepribadian yang berkarakter serta santun. Hanya dengan begitu, maka marga ini akan jadi bangsa dengan besar dan berdampak positif bagi umat manusia. Pendidikan adalah kunci pengubah bangsa.

Dalam perjalanan berbangsa & bernegara saat ini banyak permasalahan yang harus di hadapi, elok permasalahan Alam dan Non Kawasan. Untuk menyelesaikan permasalahan ini tentu nya sangat di butuhkan ajaran yang serius dan kepemimpinan yang dapat di terima di segala lapisan masyrakat. Banyak pimpinan ataupun politikus dengan sangat sadar hanya bekerja untuk golongan/partai nya saja tanpa memperhatikan kepentingan Bangsa. Tentunya ini sangat bermasalah dalam penyelesaiannya.  

Banyak orang pandai tetapi seman ideologi Pancasila nya, sehingga sangat merugikan masyarakat luas. Bibit Radikalisme dan Terorisme sudah banyak merasuk anak bangsa. Aliran-aliran mengatasnamakan pegangan tertentu beraliran garis keras yang masif masuk ke dalam semua lapisan masyarakat, baik ANS, Mahasiswa, pekerja kantoran, Akademisi, seniman dst. Dan ini juga sudah terjadi kepada pimpinan Negara kita. Jadi ini yang akan membuat semakin hancur tatanan Negara kita. Untuk itu dibutuhkan sosok Generasi Muda yang berjiwa Kesatria.  

Berbicara Kesatria kita bisa melihat definisinya, yaitu sosok manusia dengahn ciri-ciri berjiwa besar, toleran, apabila berani berbuat maka berani bertanggung jawab, bagak mengakui kesalahan dan kelemahan diri sendiri, mengakui kelebihan orang lain, pemaaf dan memiliki kasih sayang.

Setiap hari kita melihat banyak orang-orang yang menunjukkan sikap tidak kesatria, baik itu pejabat maupun warga sipil yang terprovokasi atau apalagi ikut memprovokasi warga lainnya. Ini harus dihentikan. Semua pihak kudu bercermin dan jujur pada diri sendiri, apakah yang kita lakukan baik dan benar? Maksud indah belum tentu benar, sementara yang benar mestinya baik, walaupun agak-agak kurang nyaman bagi sebagian orang.

Dalam menghadapi orang yang tidak kesatria, kita tidak boleh bersikap selaku. Kita harus lebih sabar & memberi respon yang lebih pandai serta Kita harus menunjukkan perilaku seorang yang kesatria.
Biar bisa menjadi kesatria kita kudu belajar. Belajar memahami apa artinya menjadi kesatria dan menjaga kedisiplinan diri untuk tetap konsisten secara sikap tersebut.

Untuk itu seorang Kesatria Harus konsisten, berjiwa besar, tak cengeng, tidak bersikap kejam, tidak bersikap kasar, tidak menyebar kepura-puraan, tidak lakukan hal yang mempermalukan, tidak berkhianat, dan berperilaku tata dan santun.

Seorang pemimpin berjiwa kesatria perlu cepat belajar dari kesalahannya dan bahkan cepat menunjukkan bagaimana ia memperbaiki diri melalui tindakan-tindakannya. Memang dibutuhkan kerendahan hati buat mengakui kelemahan diri di aliran orang banyak, dan    dibutuhkan pula kebesaran hati untuk menerima kekurangan orang lain. Orang defensif, yang tidak mengakui kesalahan apalagi menghindar, tampaknya sudah tidak memiliki tempat di hati manusia-manusia kritis dan modern. Kebiasaan untuk mencari-cari alasan sudah tidak lagi bisa diterima saat ini. Informasi telah terlalu terbuka sehingga orang secara mudah bisa mengecek kebenaran bukti yang dibicarakan    orang.  

Mengalah bukan berarti kalah, namun mengamalkan sesuatu yang membuat situasi dengan lebih terkendali. Biarlah diri kita tersakiti, namun yakinlah suatu masa rasa sakit itu akan terobati dan tergantikan dengan kebahagiaan. Tetapi alangkah indahnya hidup yang bergejolak, jika kita hiasi dengan rasa mengalah itu sendiri.

Untuk itu perlunya pendidikan mulai usia dini mengenai Ideologi Pancasila dan sosok bani adam yang berjiwa Kesatria. Semenjak Pemimpin ke 2 lengser, pendidikan Pancasila di tingkat SD Sampai SMA seolah di abaikan oleh negeri yang menggantikan sampai saat itu. Hal ini berdampak pada Budak cucu kita yang disebut bani milenial kurang memahami Seluk beluk Pancasila, dimana Pancasila merupakan pokok Negara kita yang seharusnya kita mampu menghafal dan melafalkan beserta menjalankan nya dalam kehidupan sehari-hari. Kita belum terlambat untuk suka berubah ke arah yang bertambah baik, butuh kerjasama seluruh anak bangsa untuk saling bergandengan lengah, jangan mau kita di menghasut oleh orang-orang yang beraliran Subversif yang mengatasnamakan Agama.  

Jangan suka kita di adu domba antar agama oleh orang-orang yang mengatasnamakan turunan Nabi. Ingat bangsa tersebut besar karena pendahulu kita yang berjuang dengan mengorbankan darahnya. Kita wajib menjaga kemerdekaan ini, Kita harus lebih pandai dari mereka yang ingin memporak porandakan kebulatan dan persatuan Bangsa. Kita harus bisa merawat Ke Bhinneka hirau dari Sabang sampai Merauke daripada Miangas ke Pulau Roye.  

“Generasi Muda… Jangan lengah, tetap Perdata dan berhati-hati dalam setiap langkah”… Karena Indonesia ke depan dalam Tangan Mu. Saat ini dibutuhkan sosok Generasi Muda   Dengan berideologi Pancasila dan berjiwa Kesatria untuk Menjaga Kesatuan dan Asosiasi Bangsa Indonesia.

***

*) Oleh: Kolonel Kes dr Mukti Arja Berlian SpPDP, Kepala RSAU dr Esnawan Antariksa.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia. co. id

*) Model TIMES atau rubrik opini dalam TIMES Indonesia terbuka untuk ijmal. Panjang naskah maksimal 4. 000 karakter atau sekitar 600 logat. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia. co. id

*) Redaksi berhak tidak menayangkan pendapat yang dikirim.