November 23, 2020
Radang paru-paru Jadi Momok Balita, Dinkes Jatim: Perlu Prioritas Dukungan Semua Bagian

Radang paru-paru Jadi Momok Balita, Dinkes Jatim: Perlu Prioritas Dukungan Semua Bagian

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Penyakit ISPA/Pneumonia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia terutama pada balita. Penyakit ISPA/Pneumonia yang dihadapi termasuk aib serius yang berpotensi menyebabkan janji bayi/balita. Selama tahun 2015 tersedia 922. 000 balita meninggal sebab pneumonia.

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Penyakit ISPA/Pneumonia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat dalam Indonesia terutama pada balita. Penyakit ISPA/Pneumonia yang dihadapi termasuk penyakit serius yang berpotensi menyebabkan mair bayi/balita. Selama tahun 2015 tersedia 922. 000 balita meninggal karena pneumonia.

Data WHO menyebutkan bahwa Radang paru-paru merupakan penyebab 15% kematian balita di dunia. Sementara di Indonesia, Pneumonia merupakan penyebab kematian cetakan 2 terbesar setelah diare. Pneumonia masih menjadi penyebab kematian terbesar bayi dan balita lebih penuh dibanding dengan gabungan penyakit AIDS, malaria dan campak.  

Menurut data Sistem Registrasi Sampel Indonesia, Balitbangkes, 2014, Pneumonia merupakan penyebab 12, 6 persen  kematian balita. Diperkirakan 23 balita meninggal setiap jam dengan 2-3 orang diantaranya sebab Pnemonia.

Faktor risiko terhadap timbulnya ISPA antara lain kurangnya pemberian ASI eksklusif, gizi buruk, polusi udara dalam ruangan, berat badan bayi lahir rendah (BBLR), kepadatan penduduk serta imunisasi campak.

Menurut data Dinkes Jatim, penemuan kasus Pneumonia balita di Jawa Timur sampai bulan september tahun 2020 sebesar 30, 09%. Angka tersebut masih jauh dari target 60%.

Sedangkan prosentase buat kab/kota yang 50% puskesmasnya melakukan pemeriksaan dan tatalaksana standart  sebesar 86, 84% di mana angka ini sudah mencapai target nasional 50%.  

“Melihat besarnya permasalahan Pneumonia tersebut, seharusnya program ini menjadi salah satu prioritas yang menetapkan mendapatkan dukungan semua pihak, ” terang Kadinkes Jatim, dr Herlin Ferliana, Jumat (20/11/2020).  

Dukungan Dinkes Jatim sendiri antara lain memproduksi komitmen yang kuat, kesinambungan pendanaan, mengintegrasikan kegiatan ISPA/Pneumonia ke dalam kegiatan MTBS dan penyakit peparu, tatalaksana sesuai SOP di sarana pelayanan kesehatan, membangun  jejaring dengan kuat di semua Fasyankes dalam wilayah kerjanya serta pencatatan & pelaporan yang valid, lengkap serta tepat waktu. (*)