November 30, 2020
Dr OC Kaligis Kirim Surat Terbuka Kepada Panglima TNI Terkait Ancaman Rizieq Shihab

Dr OC Kaligis Kirim Surat Terbuka Kepada Panglima TNI Terkait Ancaman Rizieq Shihab

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Praktisi Hukum Senior Indonesia, Dr. OC Kaligis, SH MH,  mengirimkan surat terbuka kepada Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto di Jakarta. Surat itu tentang dengan kepulangan Rizieq Shihab serta ceramahnya yang selalu dianggap kontroversial.

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Praktisi Hukum Senior Indonesia, Dr. OC Kaligis, SH MH,   mengirimkan surat terkuak kepada Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto di Jakarta. Tulisan itu berkenaan dengan kepulangan Rizieq Shihab dan ceramahnya yang selalu dianggap kontroversial.

Surat itu, dikirim di dalam hari Minggu 15 November 2020 dengan pesan yang kuat dan masukan konstruktif kepada Institusi pertahanan negata Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Dikutip dari  journaltelegraf. com di Jakarta, berikut riwayat lengkapnya;

Kepada yang terhormat Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto. *

Hal. “Revolusi Habib Rizieq” Adili Habib Rizieq.

Secara Hormat.

Pekenankanlah saya Prof Otto Conelis Kaligis, dalam peristiwa ini bertindak dalam kedudukan saya Selaku Praktisi dan Pengamat Hukum menyampaikan himbauan kepada Bapak Pemimpin yang punya tugas utama mempertahankan NKRI, untuk hal berikut tersebut:

Di era Pemerintahan Bapak Presiden Soehato, disekitar tahun 1982, sebagai seorang advokat, saya sudah membela Adah Djaelani tokoh pergerakan Darul Islam yang hendak mendatangkan Indonesia menjadi Negara Islam Nusantara.

Disaat itu Bapak Pesiden Soeharto tegas, menyapu bersih anasir-anasir yang hendak meruntuhkan NKRI. Peradilan atas Adah Djaelani berjalan lancar. Tanpa adanya pengerahan massa pembantu. Akhirnya semua anasir-anasir pemecah mengacaukan persatuan dihabisin.

Sepulangnya Ulama Habib Rizieq (yang konon dihormatinya karena dia adalah seorang famili Nabi), bahkan sejak Habib Rizieq diluar negeri, saya telah turut menyaksikan provokasi si Habib.

Dia tidak mengakui Pemerinahan Jokowi- Ma’ruf, menyebutnya sebagai Presiden gelap, memprovokasi kemungkinan timbulnya perang darah bila tentara secara resistensi melakukan perlawanan, menyerukan dilakukannya revolusi achlak (memangnya bangsa Indonesia sudah tidak lagi berachlak? ), menyerukan substitusi Presiden/Pemerinahan, mencap Pemerintah sebagai rezim curang. Bermaksud menjadikan NKRI yang berdasarkan Pancasila menjadi Indonesia sebagai negara Syariah.

Dari penyataan-penyataan Habib Riezieq terbukti bahwa tempat benar-benar mempovokasi pengikutnya untuk melawan Pemerintahan yang sah, dan putaran separatisnya makin menjadi, karena Penguasa Hukum melakukan Pembiaran aksi pancingan Habib yang makin berani.

Provokasi adalah awal makar. Jadi Bapak masih ingat Provokasi Osama bin Laden. Provokasi Osama: “We-with God’s help- call on every Muslim who believes in God and wishes to be rewarded to comply with God’s order to kill the Americans and plunder their money wherever and whenever they find it” Hasutan Osama ini mengindroktinasi kaum Muslim untuk membenci orang Amerika beserta mensahkan perampokan harta mereka”

Provokasi serupa untuk meruntuhkan Tadbir sah Jokowi kini dilancarkan oleh Habib Rizieq dengan mengjustifikasi provokasinya sebagai gerakan bela ulama, khususnya ulama besar Habib Rizieq yang katanya keturunan Nabi yang difitnah oleh Pemerintah Indonesia. Atas Pokok itu Habib Rizieq mengajak kaum muslimin merapatkan persatuan untuk melawan pemerintahan Jokowi yang disebutnya sebagai rezim curang.

Apabila Provokasi tersebut dibiarkan berlangsung, maka menurut prinsip terorisme, ucapan Provokasi tersebut bakal menjelma menjadi tindakan terror, jadi tujuan mencapai kekacauan akan berlaku, yang dampaknya berlanjut kepada tindakan makar.

Sebelum runtuhnya Twin Tower di New York, dikenal dengan peristiwa 11 September 2001 semua Provokasi kelompok terorisme dibenarkan di bawah naungan kebebasan berbahasa.

Hanya tindakan nyata yang dihukum. Setelah runtuhnya twin Tower di New York, Badan Intellijen Amerika mulai merobah sikap mereka terhadap kelompok terorisme, yang oleh Osama bin Laden, diperintahkan agar semua Muslim membenci Amerika serta berhak merampok kekayaannya.

Di negara tetangga kita, Malaysia & Singapura misalnya memberlakukan “Security Act” semacam Undang subversif, untuk mengatasi Provokasi pemecah belah persatuan bangsa, dan menghukum mereka yang mau menjatuhkan pemerintahan yang sah.

Sebenarnya kalau saja Polisi jantan bertindak dan tidak melakukan pembiaran atas Provokasi Habib Rizieq, Penjaga bisa menjerat Habib melalui Kitab Undang Hukum Pidana.  

Baca Buku Kedua mengenai Kebusukan. Bab I. Kejahatan terhadap ketenangan negara mulai Pasal 104 sd. 129. Bab. II. Kejahatan kepada Martabat Presiden Dan Wakil Presiden. Mulai dai Pasal 130 sampai dengan Pasal 139.

Mengapa Habib Rizieg makin besar kepala? Kepulangannya saja diamankan super teliti oleh Polisi.  

Lawatan silaturahirm dilakukan oleh Gubernur DKI. Anis Baswedan, Amin Rais. Program DKI mengenai prosedur pengamanan Covid 19, dilanggar. Bahkan Masker dibagikan dalam acara perkawinan anaknya. Dalam acara itu Habib masih tahu melemparkan kata Lonte kepada Nikita Mirzani. Bila mendengar kata-kata Hasutan Habib, saya kira semua karakter terdidik, terkaget-kaget mendengar ocehannya.

Kecendrungan menuju negara syariah makin deras didengungkan. Penghinaan terhadap petunjuk lain, seperti ada Jin kafir disalibnya orang kristen, atau Injil itu Palsu, dibiarkan oleh Penyidik Polisi. Beda dengan adanya plakat “jangan Pilih kafir” diera Pilkada AHOK. Padahal the founding father menolak keras dimajukannya Piagam Jakarta.

Saudara kandung Agus Sehat ada yang beragama katolik, ataupun saudara Buya Hamka yang pendeta, tidak dicap oleh keluarga itu sebagai Kafir. Bahkan Perdana Gajah Sjafruddin Prawiranegara, memegang Injil sebelumnya dieksekusi. Banyak pendiri NKRI tidak Islam, turut bersama membangun NKRI dalam wadah pluralisme. Presiden Soekarno tidak menghendaki Indonesia menjadi negeri Agama.

Semoga dengan ditegakkannya Hukum tanpa tebang Pilih. Ejekan Habib terhadap pemerintahan yang pasti, seruan Habib untuk mengganti Kepala, dan segala bentuk Provokasi lannya yang merisaukan Masyarakat, dapat dibawa ke ranah Hukum, demi amannya negara ini.

Saya merekam Surat ini kepada Bapak Pemimpin, karena saya yakin melalui Prinsip Sapta Marga, Tentara bisa menyalahi Provokasi Habib Rizieq yang berjanji mengganti Pemerintahan yang sah.

*Sukamiskin, Minggu 15 November 2020.

Prof. Otto C. Kaligis. (*)