November 30, 2020
Cabup Bandung Kurnia Agustina Ingin Bentuk Techno Park

Cabup Bandung Kurnia Agustina Ingin Bentuk Techno Park

TIMESINDONESIA, BANDUNG – Calon Bupati Bandung nomor urut 1, Kurnia Agustina menyatakan dirinya akan membangun Techno Park di Kabupaten Bandung jika terpilih di Pilbup Bandung 9 Desember 2020. Techno park tersebut di dalamnya akan disiapkan inkubator bisnis dan akan disinergikan dengan para akademisi, masyarakat, CSR dan lainnya. Techno Park juga bisa dijadikan tempat buat menampung keluh-kesah…

TIMESINDONESIA, BANDUNG – Calon Bupati Bandung nomor urut 1, Kurnia Agustina menyatakan dirinya akan  membangun Techno Park di Kabupaten Bandung jika terpilih di Pilbup Bandung 9 Desember 2020. Techno park tersebut di dalamnya bakal disiapkan inkubator bisnis dan mau disinergikan dengan para akademisi, masyarakat, CSR dan lainnya. Techno Park juga bisa dijadikan tempat untuk menampung keluh-kesah terkait kendala yang dihadapi oleh para pelaku UKM.

“Teman-teman dari berbagai kalangan dan unsur bisa datang langsung ke Techno Park tersebut yang dijadikan inkubator bisnis nantinya, ” ujar perempuan yang akrab disapa Teh Nia saat wawancara di Kecamatan Cimaung, Kamis (12/11/20).

Dalam kunjungannya ke Kecamatan Cimaung, Teh Nia menemui & berbincang dengan petani kopi yang ada di sana. Dalam pertemuan tersebut, Teh Nia mengatakan para petani kopi tidak hanya memikirkan hasil panen yang bagus. Tapi, lanjutnya, para petani kopi pula berharap ada produk yang bani dari biji kopi tersebut.

“Ini baik sekali. Karena pada hakikatnya kita tahu, ketika kita mengelola secara bahan mentah, akan berbeda secara jika kita mau mengurainya ke bentuk produk kemasan yang lebih bisa acceptable dan marketable. Kemudian tinggal pengelolaan secara manajerialnya, ” tutur Teh Nia.

Salah satu kendala yang dialami oleh para petani kopi di Cimaung adalah sedang belum adanya koperasi, dan pembinaan masih dilakukan secara parsial. Teh Nia mengatakan dalam pengayaan bibitnya juga masih bermacam-macam. Padahal dengan diinginkan adalah jenis spesiality pada mana sangat mengutamakan homogen pada tanamannya. Termasuk juga dengan kualitasnya untuk rasanya yang harus lestari terjaga.  

Teh Nia yang berpasangan dengan Usman Sayogi di Pilbup Bandung itu, mendorong para petani kopi untuk ikut serta pada berbagai festival yang digelar oleh para komunitas kopi, baik di tingkat provinsi, nasional dan bahkan internasional. Menurutnya, hal tersebut menjadi peluang yang sangat besar. “Cimaung menyimpan banyak potensi. Kita sangat mengapresiasi keinginan dari para petani kopi ini, ” kata Teh Nia.

Selain memaparkan program untuk peningkatan kesejahteraan petani kopi, Teh Nia akan memanfaatkan magot untuk menggarap masalah sampah. Bagi sebagian karakter,   magot dianggap sesuatu dengan menjiikan. Namun, kata Teh Nia, magot tidak hanya memiliki manfaat untuk lingkungan, tapi juga bisa membawa benifit ekonomi. Oleh sebab itu, magot bisa menjadi jalan ekonomi dan harus dikembangkan bertambah lanjut dalam rangka mengentaskan perkara lingkungan, utamanya terkait dengan kotor.

“Karena seperti kita ketahui, dalam mulia hari ada empat kwintal sampah per RW. Kalau kita tidak mengurai dan mengelolanya sekarang, tersebut akan diwariskan ke generasi   selanjutnya. Apakah mau, anak kita diwarisi sampah?, ” ucapnya.

Sampah dasar menjadi suatu permasalahan daerah, termasuk di Kabupaten Bandung. Sewaktu beriringan dengan Forum Kabupaten Bandung Segar, Teh Nia mengaku sudah melangsungkan beberapa tatanan untuk mengatasi urusan sampah ini. Namun itu sifatnya masih dalam lingkup forum dan komunitas saja. Kata Teh Nia, permasalahan sampah harus dikelola dengan berkesinambungan dan berkelanjutan.

“Pemilihan dasar yang sudah dikenakan ke rumah nikah itu adalah pemilihan sampah jeblok dan kering. Dalam beberapa bank sampah yang kita lihat ini sangat tematik. Dan sepertinya ini inovatif untuk merangsang masyarakat, pada mana ketika melihat sampah tersebut, sebagai suatu berkah yang membawa keuntungan, ” kata Kurnia Agustina. (*)