October 24, 2020
Kemenparekraf RI Ajak Pelaku Usaha Perkuat Kemitraan untuk Tingkatkan Citra Pariwisata

Kemenparekraf RI Ajak Pelaku Usaha Perkuat Kemitraan untuk Tingkatkan Citra Pariwisata

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Kemenparekraf RI (Kementerian Pariwisata serta Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) mengajak dan mendorong para pelaku usaha pariwisata dan ekraf untuk memperkuat kemitraan dalam hal promosi untuk meningkatkan citra turisme dan ekraf Indonesia.

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Kemenparekraf RI (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) menyilakan dan mendorong para pelaku jalan pariwisata dan ekraf untuk memperkuat kemitraan dalam hal promosi buat meningkatkan citra pariwisata dan ekraf Indonesia.

Deputi bidang Pemasaran Kemenparekraf/Baparekraf, Nia Niscaya, dalam acara Wonderful Nusantara Co-branding Forum (WICF) yang dijalankan secara daring, Senin (5/10/2020), mengucapkan mengacu kepada Peraturan Pemerintah Cetakan 50 Tahun 2011 mengenai Agenda Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional (RIPPARNAS), kemitraan merupakan salah satu sebab empat pilar pemasaran pariwisata Nusantara, selain pengembangan pasar, citra, & promosi. Untuk itu, perlu tersedia jalinan kemitraan yang kuat kurun pemerintah dan pelaku wisata buat mempromosikan potensi wisata di Tanah Air.

“Kemitraan mengandung arti jalinan kerja sama hubungan timbal balik, silih menguntungkan yang terjalin berdasarkan afeksi, kesetaraan dan kebersamaan yang sinergis antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha dalam pembangunan kesejahteraan baik, ” kata Nia.

Melalui kemitraan dengan kuat, lanjut Nia, pihaknya & para pelaku usaha bisa menawarkan brand “Wonderful Indonesia” yang merepresentasikan kekayaan budaya dan pariwisata kerabat Indonesia. Selain itu, Nia menambahkan kemitraan untuk pemasaran yang berpengaruh dapat membangkitkan kembali sektor turisme di Negara yang tengah mengalami penurunan akibat pandemi Covid-19.

“Sektor pariwisata dan ekraf kini juga mengikuti beradaptasi di masa pandemi Covid-19. Dengan demikian, kita perlu merapatkan barisan dalam berkreasi dan berangkulan untuk mempertahankan serta meningkatkan kesadaran, ketertarikan, dan perhatian terhadap turisme dan ekonomi kreatif Indonesia, ” katanya.

Nia menuturkan program kemitraan Kemenparekraf/Baparekraf ini telah berjalan sejak 2017. Menurutnya, program ini memiliki kontribusi penting untuk meperkenalkan dan memasarkan potensi wisata Indonesia di dalam dan luar negeri.

“Dengan meningkatnya brand awareness ‘Wonderful Indonesia’ diharapkan berujung pada meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan nusantara dan kunjungan wisatawan mancanegara serta meningkatkan devisa dari daerah pariwisata, ” ungkap Nia.

Acara itu juga dihadiri oleh Direktur Komunikasi Pemasaran Kemenparekraf/Baparekraf, Martini M. Haluan. Dalam pemaparannya, Martini menuturkan, keterlibatan para mitra, dalam hal tersebut pelaku usaha dan pemerintah, berlaku penting untuk memperkuat dan mengambil jejaring baru dengan para pelaku wisata untuk mencari kesempatan dengan lebih luas dalam kolaborasi memajukan pengenalan merek “Wonderful Indonesia’’ serta usaha dari para pelaku tersebut ke khalayak domestik dan global.

“Program kemitraan ini juga dapat meningkatkan rasa nasionalisme dari para pelaku usaha itu sendiri melalui mengecap bangga menyandingkan merek usahanya secara brand ‘Wonderful Indonesia’, ” ujar Martini.

Martini juga menjelaskan, prinsip kemitraan pemasaran pariwisata dan ekonomi kaya yang tertuang dalam petunjuk pengamalan kemitraan pemasaran ini mengacu & berpedoman kepada Peraturan Menteri Turisme No. 2 Tahun 2018 mengenai Tata Cara Kerja Sama.  

Tersedia lima prinsip kemitraan yang  diusung Kemenparekraf/Baparekraf, yaitu saling pengertian, kesamaan, keterbukaan, manfaat bersama, kesepakatan beriringan, dan tindakan bersama.

“Melalui kemitraan pemasaran ini, Kemenparekraf RI membuka kesempatan seluas mungkin bagi kalangan pabrik untuk ikut berperan dan berkolaborasi memajukan pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia. Secara garis besar muslihat ini menerapkan tiga faktor utama, yaitu efisiensi melalui berbagi sumber daya dengan mitra yang bekerja sama; sinergi atau menciptakan kreasi program-program pemasaran, komunikasi pemasaran dan propaganda yang kreatif dan memaksimalkan posisi kedua belah pihak; dan persekutuan ini juga memungkinkan dalam memperluas jangkauan eksposur dan dampak komunikasi yang dijalankan, ” jelas Martini. (*)