October 24, 2020
DKI Jakarta Kembali PSBB, Pakar Antropologi: Itu Pilihan yang Rasional

DKI Jakarta Kembali PSBB, Pakar Antropologi: Itu Pilihan yang Rasional

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Pakar Antropologi, Universitas Khairun,  Ternate, Yanuardi Syukur menilai, penerapan PSBB kembali di DKI Jakarta adalah pilihan rasional. Hal itu dikarenakan, Pemrov DKI Jakarta memang sedang dihadapkan pada fakta kalau penderita Covid-19 di Ibu Kota sangat mengkhawatirkan.

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Pakar Antropologi, Universitas Khairun,   Ternate, Yanuardi Syukur menilai, penerapan PSBB kembali di DKI Jakarta adalah pilihan rasional.

Hal tersebut dikarenakan, Pemrov DKI Jakarta memang sedang dihadapkan pada fakta kalau penderita Covid-19 di Ibu Kota sangat mengkhawatirkan.

“Sebagai Gubernur (Anies Baswedan), ia berpikir untuk membatasi mobilitas warga karena asumsi bahwa mobilitas tersebut berkontribusi pada penyebaran virus corona yang tidak berhenti. Berarti, jika mobilitas warga disertai dengan tertib sosial maka bisa siap angka penderita Covid-19 tidak begitu tinggi, ” katanya kepada TIMES Indonesia, Selasa (15/9/2020).

Pilihan penerapan PSBB kembali ini tentu harus dihargai sebagai bagian dari tanggungjawab besar daerah kepada daerahnya. Apalagi tersebut menyangkut kesehatan orang banyak. Bila masyarakat sehat, maka roda ekonomi juga akan berjalan lancar. Akan tetapi jika masyarakat tidak sehat, sulit sekali untuk menggerakkan roda ekonomi.

“Secara antropologis, saya melihat bahwa para elite harus menunjukkan keteladanan secara mengikuti protokol, karena masyarakat kita cenderung mengikuti pemimpinnya. Kita adalah masyarakat yang senang menyontoh. Maka, contoh dari elite entah itu baik atau tidak baik, memiliki dampak bagi masyarakat, ” jelasnya.

Buat itu, tertib sosial yang dia harapkan dalam bentuk ketaatan di protokol harus dibarengi dengan sopan personal yang terlihat dari kesungguhnya untuk mengikuti protokol kesehatan sebaik-baiknya.

Di dalam konteks ini, tiap individu diharapkan dapat menjadi agen tertib sosial dengan memanfaatkan segenap kapasitasnya agar orang terdekatnya juga ikut protokol kesehatan.

“Saya melihat bahwa sudah saatnya tiap kita menjadi agensi dengan intensi (niat) untuk mengikuti adat kesehatan. Kita juga dapat menggunakan segenap kapasitas sumber daya dengan ada seperti relasi atas-bawah ataupun relasi horizontal (sesama masyarakat) buat benar-benar ikuti protokol, ” jelasnya.

Sebab itu, lanjut Yanuardi, kebijakan daripada atas saja tidak cukup untuk membatasi penyebaran virus. Harus tersedia agensi aktif dari tiap orang seperti elite, tokoh masyarakat, arsitek pemuda, agar ikut serta pada sosialisasi menggunakan masker, jaga renggang, dan mencuci tangan dengan cairan mengalir. Semua harus bergerak bersama-sama.

“Jika langkah itu kita lakukan, oleh sebab itu selain kita telah menghidupkan kembali budaya gotong-royong dalam bentuk keagensian aktif untuk kampanye ikut adat, juga telah berkontribusi untuk membantu percepatan turunnya angka penderita Covid-19, ” ujarnya.

Seperti yang diketahui, Pemprov DKI Jakarta  memutuskan menerapkan kembali  PSBB DKI Jakarta  secara saksama mulai 14 September 2020 kemarin. Hal itu untuk menekan kasus  Covid-19  di DKI Jakarta  terus bertambah. (*)