September 19, 2020
Pembelajaran Tatap Muka di Pagaralam Dibatasi dengan Absen Ganjil Genap

Pembelajaran Tatap Muka di Pagaralam Dibatasi dengan Absen Ganjil Genap

TIMESINDONESIA, PAGARALAM – Menindaklanjuti suara bersama diberlakukanya pembelajaran tatap muka di lingkungan pendidikan Kota Pagaralam, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Pagaralam gelar rapat penyerasian (rakor).

TIMESINDONESIA, PAGARALAM – Menindaklanjuti kesepakatan bersama diberlakukanya pembelajaran tatap muka di lingkungan pendidikan Kota Pagaralam, Dinas Pelajaran dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Pagaralam gelar rapat koordinasi (rakor).

Turut siap kepala sekolah SD SMP sepadan membahas kesiapan sekolah yang hendak menerapkan KBM tatap muka dengan direncanakan penghujung Agustus 2020.

“Rakor tersebut menindaklanjuti kesepakatan KBM bersama gusus tugas Covid-19 beberapa waktu berarakan, ” ujar Kepala Disdikbud Tanah air Pagaralam, H Cholmin Heryadi SPd Mpd melalui Kabid Dikdasmen, Jemiyo Siswanto SPd MPd kepada usai rakor bertempat di SD Kampung 7 Pagaralam, Rabu (25/8)

Hasil rapat bersama kasek SD dan SMP sederajat ditegaskan Jemiyo, KBM nantinya tetap mematuhi prokol kesehatan secara penerapan sosial distancing. “Siswa belajar nanti diberlakukan sistem genap eksentrik berdasarkan absen. Jam belajarnya biar tidak boleh lebih dari 3 jam, ” tegasnya.

Jemiyo tidak menampik, sejumlah sekolah di Kota Pagaralam sudah siap melaksanakan KBM tatap muka di masa new lazim. Hal ini juga sebagaimana arahan dari pihak gugus tugas percepatan penanggulangan Covid-19.

“Dari kesepakatan bersama pada penerapanya nanti, siswa yang berhak mengikuti KBM tatap muka harus mengantongi surat izin dari wali murid (orang tua, red) meniti komite sekolah, ” terangnya.

Sementara Pemangku Kota Pagaralam, Alpian Maskoni mengucapkan, penerapan KBM Dalam Jaringan (Daring) masih didapati kendala. Salahsatunya, keterbatasan fasilitas internet apalagi mereka yang ada di pelosok.

“Dengan adanya kelonggaran Pemerintah Pusat bagi daerah kawasan kuning, KBM tatap muka bisa dilakukan. Namun syarat utamanya, protkes Covid-19 tetap dipatuhi baik itu jumlah siswa dan jam belajarnya dibatasi, ” pungkasnya.

Sementara Kepala SMP Negeri 1 Kota Pagaralam Ahmad Rifai SPd MPd mengatakan, pihaknya menyambut baik penerapan belajar tatap muka yang akan dilaksanakan berangkat 31 Agustus 2020 mendatang.

“Namun, sungguh baiknya, penerapan ini diuji coba terlebih dulu di beberapa madrasah yang wilayahnya aman dan sekolahnya siap. Bertahap di wilayah Dempo lebih dulu. Kalau selama satu bulan aman dan tidak ada masalah Covid-19, baru penerapan tersebut diperluas ke wilayah lain, datang nanti seluruh wilayah Kota Pagaralam, ” ungkapnya.

Kemudian lanjut Ahmad Rifai, kalau sekolah yang belum jadi untuk melaksanakan belajar tatap depan, tentunya harus dipersiapkan terlebih awal, jangan terlalu memaksakan, ditakutkan kalau persiapan belum matang, nantinya mampu berisiko.

  “Kalau untuk di SMP Negeri 1 sendiri, saat tersebut terus berupaya mempersiapkan secara maksimal untuk melaksanakan belajar tatap muka. Dalam waktu dekat, akan menyelenggarakan rapat guru, pengurus komite serta walimurid, untuk berkoordinasi mengenai penerapan belajar di tengah pandemi Covid-19 tersebut, ” bebernya.

Satu kelas Dibagi Dua

Mengenai teknis pembelajarannya nanti berlanjut Ahmad Rifai, menggunakan sistem shift, artinya dalam satu kelas dibagi 2, yaitu 50 persen lantaran jumlah siswa yang ada, atau bisa mengunakan genap ganjil, beserta bisa juga diambil dari cetakan absen berurutan 1 – 15 dan 16-30. Untuk masalah tersebut, tergantung dengan sekolahnya masing-masing.

Ditanbahkan Kepala SD Muhammadiyah 1 Kota Pagaralam, Sutrisno MPd mengungkapkan, berkaitan dengan kegiatan belajar tatap muka yang InsyaAllah akan dilaksanakan pada 31 Agustus mendatang, ada beberapa hal yang harus dipersiapkan oleh madrasah, merujuk kepada surat edaran Walikota tentang KBM tatap muka.

Hal itu adalah kegiatan belajar mengajar dengan akan dilaksanakan nanti, harus di atur sesuai dengan Protokol Kesehatan (Protkes), jumlah jam belajar memutar lama 3 jam, jumlah anak perkelas paling banyak 15 siswa, sekolah harus menyiapkan tempat basuh tangan, hensenitaizer setiap kelas.

Kemudian, Sekolah wajib menyemprot disinfektan setiap hari setelah kegiatan belajar selesai. Khusus untuk SD Muhammadiyah 1, sudah membentuk tim gugus tugas pengerjaan kesehatan bagi siswa maupun warga sekolah lainnya.

“Tim Gugus tugas itu terdiri dari Kepala Sekolah, Pengasuh Pembina UKS, Walimurid yang berjalan di bidang kesehatan, serta mewujudkan anggota Puskesmas Pembantu Kecamatan, ” urainya.

Lanjut Sutrisno, dengan jumlah siswa per kelas bagi sekolah yang siswanya banyak, diatur dengan pola shift, misalnya 50 persen sejak jumlah siswa masuk pada shift 1 dan 50 persennya teristimewa masuk pada shift 2.

“Hal tersebut supaya tidak terjadi penumpukan anak pada saat mengikuti pelaksanaan belajar yang dilaksanakan di sekolah, ” pungkas Kepala SD Muhammadiyah satu Kota Pagaralam terkait wacana pemberlakuan  pembelajaran tatap muka. (*)