September 18, 2020
Rencana Pedagang Rujak Manis di Daerah Legendaris Kota Pahlawan

Rencana Pedagang Rujak Manis di Daerah Legendaris Kota Pahlawan

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Tangan M Nor (48) terlihat sigap menyiapkan potongan buah untuk rujak manis pada atas plastik mika. Jumlahnya 3 porsi. Nampak tumpukan semangka, nanas, mangga muda, bengkoang, melon, pepaya, kedondong dan bermacam buah bugar lainnya. Tak lupa tahu menyelar sebagai pelengkap kuliner rujak molek.

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Tangan M Nor (48) terlihat sigap menyiapkan irisan buah untuk rujak manis di tempat plastik mika. Jumlahnya tiga bagian. Nampak tumpukan semangka, nanas, mangga muda, bengkoang, melon, pepaya, kedondong dan bermacam buah segar yang lain. Tak lupa tahu goreng jadi pelengkap kuliner rujak manis.  

Terang ini sungguh terik karena musim kemarau. Pria asal Bojonegoro itu begitu yakin akan ada konsumen datang. Benar saja, tak bercelah lama sebuah mobil menghampiri gerobak usang yang mangkal di tepi Jalan Polisi Istimewa, Surabaya, itu.

Rasa rujak manisnya memang cukup populer. Ia sudah memiliki pelanggan. Sungguh tidak, M Nor mewarisi daya kecil milik bapaknya yang sudah 24 tahun berdiri.

“Awalnya dari bapak saya. Saat itu harga rujak masih Rp 1. 500. Saat ini sudah Rp 13. 000, ” terang Nor seraya sibuk menyapu beberapa macam buah, Sabtu (22/8/2020).  

Untung rugi bukan barang mutakhir. Sudah biasa, demikian ucapnya. Periode panas biasanya ramai, waktu hujan pendapatan agak menurun. Sukanya kalau dapat untung banyak. Dukanya masa hujan itu rugi. Naik turun harga buah pun telah menjelma perhitungan. Bagi pedagang kecil seperti M Nor, tak ada muslihat bisnis yang rumit.

“Nggak ada desain. Soalnya buah ada yang terbang ada yang turun harga mengikuti harga makanan. Waktu Rp satu. 500 dulu nasi ya sedang Rp 1. 500. Satu porsinya disesuaikan dengan nasi gitu aja. Menyesuaikan pasaran makanan di Surabaya, ” jelasnya.  

Peminat rujak indah sendiri tak terbatas. Mulai dibanding kalangan menengah ke bawah maka menengah ke atas. Namun era ini, sejak pandemi, M Nor mengaku mengalami penurunan omzet. Biasanya ia mampu menjual 50 bagian per hari.  

“Sepi ini membangun gara-gara pandemi aja, nggak apa-apa ini. Penjualan turun mulai 30-40 persen. Biasanya per hari bisa jual sekitar 50 porsi. Jika kondisi gini cuma 30-an saja. Ya namanya orang kerja naik turun biasa. Nggak apa-apa, ” jawabnya.  

Penjual rujak manis tidak hanya menghadapi badai empat kamar saat musim penghujan tiba. Namun juga badai pandemi. Akan tetapi  dalam kamus pedagang kecil, kesusahan bisa menjadi sedekah.  

“Nggak sampai rugi, paling cuma buang buah kalau sepi. Tapi sebelum pandemi ini nggak ada yang begitu, cuma baru ini aja. Sebanding pas musim hujan biasanya tiba bulan November – April. Biasanya itu. Paling stok buahnya kira dikurangi, ” ucap Nor menambahkan.  

Semua pembeli ia layani secara baik. Bisa jadi ada konsumen yang rewel. Ah, tak jadi soal. Baginya, mengutip kata pepatah lama, pembeli adalah raja.  

“Ya biasa kata orang pembeli tersebut seperti raja. Kalau nggak banyak cakap nemen nggak apa-apa, ” terangnya sembari menyunggingkan senyum.  

Rujak indah M Nor memang istimewa. Buahnya juga melimpah mencapai 11 ragam. 1 kilogram sambal gula merah dan kacang untuk 11 porsi saja. Tak hanya rasa bumbunya yang kental dan punya tiga pilihan rasa. Tapi cara melayani pelanggan begitu sabar. Sampai-sampai ia hapal betul selera tiap pembeli.  

“Orang Surabaya lebih menyukai mengalami standar  biasa nggak pedas. Kalau saya memang bikin  3 ragam bumbu. Manis, gula saja tanpa bumbu rasa, dan pedas, ” jelasnya.

Sejak dahulu, M Nor tidak pernah berpindah tempat. Ia mangkal di seberang Gereja Katedral Surabaya.   Buka mulai jam 09. 00-17. 30 WIB.  

“Tidak bisa pindah tempat nanti nggak berlaku kalau pindah-pindah. Tempatnya sudah masyhur di sini, ” tandasnya.

Sementara penjual asing sudah banyak yang meninggal minus ada penerus. Sebab suasana tidak lagi menguntungkan. Jika dulu di sepanjang Jalan Polisi Istimewa bererot belasan penjual rujak manis, kini hanya tinggal hitungan jari selalu.  

“Nggak ada yang meneruskan soalnya suasana nggak terlalu menguntungkan. Dulu bisa sekitar 15 orang wilayah sini saja. Sekarang tinggal tujuh, yang 8 sudah nggak ada yang mau meneruskan karena tanda sudah nggak memungkinkan antara keuntungan nggak nutut, ” kata M Nor.  

Jika petang tiba, Nor pulang ke kos. Anak istrinya tinggal bersama mertua di Bojonegoro.  

“Keluarga saya ada enam. Bujang istri di Bojonegoro sama mertua. Saya di sini kos, ” kisahnya.  

Saat pagi tiba, dia akan kembali mendorong gerobak rusak dengan beraneka macam buah anyar menuju ladang rejeki.  

Jalan Petugas Istimewa hingga Jalan Dr Soetomo Surabaya memang telah menjadi negeri legendaris kuliner rujak manis    karena menjadi tempat mangkal para-para penjual rujak manis sejak puluhan tarikh silam. “Ya yang penting ramal minggir nggak sampai mengganggu berkepanjangan, ” ucapnya. (*)