November 24, 2020
Bakso Kuah Soto Pak Saeton, Si Legenda Kuliner Kota Banyuwangi Semenjak 1969

Bakso Kuah Soto Pak Saeton, Si Legenda Kuliner Kota Banyuwangi Semenjak 1969

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Bakso kuah soto pak Saeton, sebuah kuliner di Kota Banyuwangi, Jawa Timur yang sudah melegenda sejak tahun 1969. Citarasa sah bola-bola daging berpadu dengan kuah soto, menjadikan kuliner yang berkecukupan di Jalan Barong 156 Kelurahan Bakungan ini menjadi jawara kenikmatan lidah yang unik.

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Bakso kuah soto pak Saeton, sebuah kuliner di Kota Banyuwangi, Jawa Timur yang sudah melegenda sejak tahun 1969. Citarasa asli bola-bola daging berpadu dengan kuah soto, menjadikan kuliner yang berada pada Jalan Barong 156 Kelurahan Bakungan ini menjadi jawara kenikmatan lidah yang unik.

Mulai dari rasanya dengan lezat dan tidak mudah dilupakan, hingga sentuhan cerita mistis dalam balik asal usulnya, membuat kuliner satu ini patut dicoba dengan langsung.

Baksonya terbuat seratus persen daripada daging sapi, berukuran sedang jadi pas dinikmati dalam satu gigitan. Kuahnya sendiri merupakan kuah soto, yang kaya akan bumbu rempah dan diolah sedemikian rupa had menjadi kental. Ketika keduanya digabungkan, sebuah jaminan rasa yang begitu nikmat didapatkan pada suapan perdana.

Belum lagi ditambah potongan daging ayam goreng dan taburan bawang menyelar diatasnya, menjadikan semangkok bakso kuah soto pak Saeton ini semakin komplit. Uniknya, ayam goreng yang digunakan adalah potongan kepala, leher dan kaki atau ceker ayam.

Untuk satu porsi, bakso ini dibanderol dengan harga Rp 12 ribu rupiah. Untuk tambahan potongan kaki ayam atau kepala, maka dikenakan tambahan Rp 3 ribu.

Uniknya, disaat semua warung bakso menggunakan sinar dari kompor, justru malah sebaliknya di sini. Bakso pak Saeton ternyata masih menggunakan tungku arang. Meskipun jaman sudah mengalami mutasi, namun pemilik warung bakso itu masih mempertahankan cara jadul sewarna tersebut.

Singkat cerita, kisah kenikmatan bakso ini bermula di tahun 1969, kala itu pak Saeton (79) masih berusia muda. Diawal pernikahannya, pak Saeton merintis usahanya secara berjualan bakso gerobak keliling. Pikiran untuk mengawinkan bakso dan soto ini berasal dari istrinya. Menurutnya, sebagai pembeda agar kuliner usahanya mudah diingat orang.

“Bapak dulu merintis dari jualan bakso keliling. Jika bakso soto ini dari almarhum ibu. Kata ibu, agar asing dari yang lain. Dan bertepatan ibu itu bisa masak soto yang enak, ” kata putri bungsu pak Saeton, Eny Indriyati (43), Jumat (14/8/2020).

Bakso pak Saeton buka mulai pukul 10. 30 WIB dan tutup pukul 17. 00 WIB. Putri bungsu pak Saeton mengatakan, sebanyak apapun target yang diolahnya selalu habis. Di satu hari, dirinya mengaku berpunya menghabiskan 7 sampai 10 kilo daging sapi.

“Setiap hari habis wes. Mulai dibuka itu, nggak datang malam sudah habis, ” katanya.

Bagi orang yang pertama kali mengikuti nama Saeton, hampir rata-rata terang mengira diambil dari nama setan. Nama Saeton ini, diceritakan oleh Eny merupakan nama pemberian sejak kakeknya.

Ceritanya, kakek Eny atau orang tua pak Saeton adalah seorang petani. Kala itu, waktu pada masa hamil pak Saeton, cukup terjadi situasi pagebluk. Yakni musim kekeringan panjang. Namun saat periode panen tiba, jumlah padi yang dipanen mencapai 1 ton. Bertepatan, hari itu menurut hitungan kepercayaan jawa, pak Saeton lahir secara memiliki weton terkecil.

“Katanya, Saeton tersebut diambil dari arti seikat weton. Karena kebetulan pas waktu tersebut, kakek panen dapat satu ton. Ceritanya sih gitu, ” jelas Eny.

Eny menambahkan, mulanya pak Saeton berjualan dari hari Senin had Minggu. Sampai pada akhirnya, tempat memutuskan untuk mengambil libur di hari Kamis.

Memang, dalam kamus daya libur pada hari Kamis ini terbilang agak sedikit aneh. Sebab hari Kamis merupakan hari efektif. Namun dibalik itu semua, anak sulung pak Saeton memiliki rencana sendiri.

Menurut cerita yang beredar, di dalam suatu hari saat pak Saeton berjualan keliling pada hari Kamis. Pada malam hari, dirinya dijumpai oleh sosok mahluk ghaib. Katanya, mahluk tersebut dibalut kain suci dan terdapat kuncir dibagian kepalanya. Sejak saat itulah, hingga saat ini bakso pak Saeton tidak berjualan pada hari Kamis.

“Cerita seperti tersebut yang tau persis bapak. Akan tetapi memang dulu ceritanya bapak pernah dijumpai hantu saat berjualan. Makanya, bakso kuah soto pak Saeton ini sah tutup hari Kamis, ” kata pewaris kuliner legendaris di Kota Banyuwangi itu. (*)