November 24, 2020
Pilwali Surabaya, Pengamat: Cawali Pilih Pemangku Perempuan Lebih Berpeluang Menang

Pilwali Surabaya, Pengamat: Cawali Pilih Pemangku Perempuan Lebih Berpeluang Menang

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Empat bulan jelang Pilwali Surabaya 2020, bursa calon pengantara wali kota kian memanas. Perlombaan bukan lagi soal siapa bahan wali kota yang akan hadir, mengingat posisi ini hampir terang milik Machfud Arifin yang bakal diusung koalisi besar Parpol dan kandidat dari PDIP.

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Empat kamar jelang Pilwali Surabaya 2020, pura calon wakil wali kota kian memanas. Pertarungan bukan lagi soal siapa calon wali kota dengan akan tampil, mengingat posisi tersebut hampir pasti milik Machfud Arifin yang bakal diusung koalisi tumbuh Parpol dan kandidat dari PDIP.

Penasihat Index Indonesia, Andy Agung Prihatna menuturkan, jika akhirnya slot calon wali kota hanya diisi pengikut dari laki-laki, sebaiknya calon wakil dari kalangan perempuan. Mengingat di dalam satu dekade, 2010-2020, Surabaya menyentuh prestasi hebat bersama wali tanah air perempuan, Tri Rismaharini alias Risma.

“Kalau kemudian yang bertanding di Surabaya hanya laki-laki, itu alamat menafikkan histori secara empirik kepemimpinan rani selama satu dekade yang membuktikan kemajuan luar biasa, ” katanya dalam diskusi online, Minggu (9/8/2020).

“Sangat disayangkan kalau tidak ada mulia pun di antara para kandidat yang perempuan. Terlalu ekstrem sejak kepemimpinan perempuan langsung semua ke laki-laki, ” sambung Agung yang turut memrakarsai metode quick count di Indonesia itu.

Terlebih, masyarakat Jatim bisa menerima perempuan sebagai atasan. Dari data yang dibeber Utama, tercatat ada 79 perempuan kepala pemerintahan di Indonesia. Rinciannya, gubernur (1), wakil gubernur (2), bupati/wali kota (43), dan wakil bupati/wakil wali kota (32).

Dari jumah tersebut, Jatim menyumbang perempuan pemimpin pemerintahan terbanyak, 13 orang. Rinciannya gubernur (1), bupati/wali kota (8), pemangku bupati/wakil wali kota (4).

“Jatim cetakan satu se-Indonesia. Ini artinya barang apa? Ya masyarakat Jatim maupun Surabaya menerima perempaun sebagai pemimpin, ” kata kepala Divisi Penelitian LP3ES 2005-2007 tersebut.

Hal sama ditegaskan Penulis DPD Lingkaran Pendamping Program Pemberdayaan (LPPP) Surabaya, Siti Nafsiyah. Menurutnya, figur perempuan masih dibutuhkan buat memimpin Surabaya.

Apalagi selama dua masa, Risma tak hanya membawa pertambahan bagi Surabaya tapi juga dicintai warganya. “Itu realitas yang tak bisa dipungkiri, karena Bu Risma bisa melayani dan mengayomi warganya, ” katanya.

Karena itu, seyogiyanya majikan Surabaya pasca Risma tak seharusnya lepas dari sentuhan perempuan. Akan tetapi karena situasi politik yang mengerucut calon wali kota semuanya pria, maka perempuan bisa diplot sebagai calon wakil.

Lantas, sosok bagaimana calon wakil dari kalangan perempuan?

Menurut Istimewa, kombinasi yang ideal yakni keterwakilan dari nasionalis-agamis. Sebab, secara geografis Surabaya tidak bisa dilepaskan dari belahan sosial antara kultur nasionalis dan agamis.

“PDIP, misalnya. Bisa saja mencalonkan perempuan sebagai wali tanah air. Tapi kalau tidak, setidaknya perlulah perempuan yang diusung menjadi pemangku wali kota, ” tandasnya.

Demikian sebaliknya di kubu Machfud Arifin. Pokok, perempuan masih dibutuhkan mengingat aspek-aspek empirik, termasuk memiliki kepedulian yang lebih tinggi terhadap kepentingan jemaah dibandingkan dengan laki-laki.

“Kalau Pak Machfud merasa seorang nasionalis, harusnya selalu mengambi porsi yang berbasis keyakinan, khususnya perempuan, ” uuajrnya.

Sementara Siti menyarankan, selain pertimbangan elektoral, calon wakil yang akan dipilih sepantasnya figur perempuan yang memiliki tanda kepemimpinan seperti Risma, yakni suka blusukan, melayani, dan mengayomi warganya.

“Dari kandidat perempuan di antaranya Lia Istifhama, Dwi Astuti, dan Reni Astuti, maupun Dyah Katarina. Kita mampu lihat sendiri siapa yang banyak turun ke pasar, kampung, PKK dan sebagainya. Sudah bisa kita lihat kok, ” ucapnya.

Siti yakin, jika calon wali kota bisa menggandeng calon wakil yang mempunyai popularitas, elektabilitas yang tinggi serta rajin melakukan penyapaan ke asosiasi, maka peluang menangnya lebih gede.

“Peluang calon wali kota memenangi Pilwali Surabaya lebih besar, kalau membimbing calon wakil dari perempuan. Tapi harapan saya, perempuan itu telah terbukti melakukan penyapaan, berinteraksi, & memberi manfaat kepada masyrakat, ” tuntasnya.   (*)