October 24, 2020
Wagub Jabar: Benefit Sosial Ekonomi Idul Adha jangan Sampai BerkurangÂ

Wagub Jabar: Benefit Sosial Ekonomi Idul Adha jangan Sampai BerkurangÂ

TIMESINDONESIA, BANDUNG – Wagub Menjelajahkan Uu Ruzhanul Ulum berharap pengoperasian kurban Idul Adha di tengah wabah Covid-19 tidak mengurangi makna sosial dan ekonomi yang mau dirasakan seperti tahun sebelum pagebluk.

TIMESINDONESIA, BANDUNG – Wagub Jabar Uu Ruzhanul Ulum berharap pelaksanaan kurban Idul Adha di tengah wabah Covid-19 tidak mengurangi keuntungan sosial dan ekonomi yang akan dirasakan kaya tahun sebelum wabah.  

Menurut Termuda Uu, kesadaran umat untuk berkurban menghadirkan perputaran ekonomi di banyak sektor seperti peternakan, pertanian, pemindahan, jasa jagal/pemotongan hewan, jasa pembagian, serta beberapa sektor terkait lainnya.

Secara kata lain, Idul Adha menjelma momentum meningkatkan kesejahteraan para pelaku bisnis terkait, sekaligus pemenuhan asupan gizi protein hewani bagi klub yang membutuhkan.

Tahun ini, Uu meminta kebahagiaan tetap dirasakan masyarakat walaupun Covid-19 masih belum usai. “Hikmah berkurban dari sisi sosial di antaranya adalah dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat, juga mampu mengurangi disparitas ekonomi dan mengurangi kesenjangan baik, ” kata Uu di Tanah air Bandung, Rabu (22/7/20).

Untuk itu, Wagub meminta masyarakat mematuhi protokol kesehatan Idul Adha yang telaj ditetapkan baik oleh Kementerian Agama maupun Pemprov Jawa Barat.  

“Kepentingan kita bersama adalah bagaimana semua proses kegiatan tersebut berjalan dengan mampu tanpa mengabaikan protokol kesehatan pada era Adaptasi Kebiasaan Baru. Bagaimanapun kegiatan ini terutama kegiatan bagian sangat rawan untuk mengumpulkan kawula, ” ucapnya.

Menurut Uu yang pula Panglima Santri ini, mengacu pada surat edaran Kementerian Pertanian MENODAI Nomor 0008/SE/PK. 320/F/06/2020 tentang Pengoperasian Kegiatan Kurban dalam Situasi Epidemi Bencana Nonalam, pemotongan hewan persembahan dianjurkan berlangsung di rumah penggal hewan ruminansia (RPH-R). Namun dikarenakan terbatasnya RPH-R, maka pemotongan hewan juga bisa dilakukan di asing RPH-R dengan mengikuti protokol kesehatan dari pemerintah.  

Protokol Idul Adha juga dituangkan dalam dua kebijakan yang ditandatangani Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Beleid pertama, Keputusan Gubernur Nomor 443/Kep. 376-Hukham/2020 tentang Protokol Pemeriksaan Penjualan dan Pemotongan Hewan Kurban serta Distribusi Hewan Kurban selama Pandemi Covid-19.  

Tengah beleid kedua, Surat Edaran Nomor 451/110/Hukham tentang Penyelenggaraan Salat Idul Adha dalam Situasi Wabah Kematian Nonalam Covid-19. SE ditujukan pada bupati/wali kota, MUI, kantor departemen agama, pimpinan ormas Islam, para-para ketua DMI–Baznas, dan pimpinan tempat tinggal pesantren se- Jabar.

Setidaknya, tutur Kang Uu, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh penyelenggara/ panitia kurban yaitu: jaga jarak, kebersihan diri (memakai APD, masker, faceshield, dan lainnya), proses screening (pemeriksaan kesehatan awal bagi semua karakter terlibat), dan terakhir adalah kebersihan dan penyediaan peralatan sanitasi di area tempat pemotongan hewan kurban.  

Selain itu, seperti telah dimaksudkan di atas, hal lainnya dengan harus diperhatikan adalah pendistribusian warga yang seminimal mungkin melibatkan beberapa orang.  

“Apakah dengan diantar? Kalau kendati masih terlalu repot dan harus tetap ada kerumunan agar dengan ketat protokol kesehatan dilakukan, ” ucapnya.

“Untuk itu, kiranya perlu kegiatan sama dan kolaborasi banyak bagian, terutama dari sisi pengawasan. Benar dimungkinkan untuk melibatkan aparat dalam hal ini TNI/ Polri atau tim Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 masing-masing daerah, ” imbuhnya.

Hal lainnya yang tidak boleh lalai, kata Kang Uu adalah media pembungkus daging. Diusahakan agar tidak memakai plastik hitam dan digantikan dengan media lainnya yang jauh lebih aman dan sehat laksana besek.  

Terkait pelaksanaan salat id, berdasarkan Kepgub Jabar, diperkenankan dikerjakan di masjid, lapangan, atau ruangan dengan memperhatikan protokol kesehatan. Diantara yang pokok yakni jemaah wajib memakai masker dan membawa alat salat sendiri, serta suhu tubuh di bawah 37, 5 derajat.

Kemudian panitia salat id, juga tetap membersihkan tempat salat pakai disinfektan, memberlakukan saf berjarak minimal utama meter, mengecek suhu tubuh himpunan pakai thermo gun, menyediakan tempat cuci tangan atau hand sanitizer berbasis alkohol, tidak menjalankan kencleng amal, serta membatasi jumlah kemungkinan keluar masuk guna memudahkan penyeliaan.

Pemimpin dan khatib shalat Idul Adha  dipersilakan mempersingkat bacaan dan khutbah dengan tanpa menyalahi syariat. Setelah salat jemaah tidak saling bersalaman. “Sama seperti salat id, protokol pelaksanaan kurban dilakukan dengan kaidah wajib memakai masker, mencuci tangan pakai sabun, serta menjaga jangka, ” ungkap Wagub Jabar,   Uu Ruzhanul Ulum. (*)