November 24, 2020
Jumat Berkah: Kecintaan Shalat Nabi Muhammad

Jumat Berkah: Kecintaan Shalat Nabi Muhammad

TIMESINDONESIA, SEBAL – Nabi MuhammadSAW menjadi wujud pribadi yang gemar mengerjakan shalat. Kecintaannya beliau dengan shalat, benar sulit dijelaskan untuk digambarkan dengan lidah maupun tulisan. Rasulullah Saw merasakan kedamaian yang hakiki tengah mengerjakan shalat.

TIMESINDONESIA, MALANG – Nabi MuhammadSAW menjadi sosok pribadi yang gemar mengonkretkan shalat. Kecintaannya beliau dengan shalat, sangat sulit dijelaskan untuk digambarkan dengan lidah maupun tulisan. Rasulullah Saw merasakan kedamaian yang hakiki tatkala mengerjakan shalat.

Menurut Aswaja NU Canter Kabupaten Malang, Shalat ialah munajat seorang hamba dengan mengalahkan diri di hadapan yang sungguh kuasa. Oleh karena itu bagi Rasulullah SAW tidak ada dengan paling nikmat selain mendekat kepada sang pencipta semesta.  

Dalam HR Tirmidzi, Rasulullah bersabda “Penentram hatiku terletak dalam shalat”.

Di samping cinta Rasulullah SAW yang begitu besar dengan shalat, Rasul tetap memiliki kasih sayang dengan umatnya. Beliau tidak semerta-merta memaksa umatnya untuk turut meniru kecintaan beliau terhadap shalat, dengan memberi perintah mengerjakan shalat sama dengan apa yang beliau kerjakan. Pastinya tidak ada satu umat pun yang mampu menandingi shalat Nabi SAW.  

Suatu saat Rasullullah SAW masuk ke dalam masjid, dia dikejutkan dengan tali yang bertambah di antara dua tiang Masjid. Rasulullah SAW bertanya: “Tali barang apa ini? ”. Para Sahabat membalas: “Itu tali mililk Zainab RA (istri Rasulullah SAW). Dia gunakan tali itu untuk shalatnya, tenggat ketika dirinya merasa kendur (letih), maka dia ikatkan tubuhnya dalam tali itu”.

Rasulullah SAW lalu mengurus untuk melepaskan ikatan tali daripada tiang masjid. Dalam HR Bukhari, Rasulullah SAW bersabda “Hendaklah kalian shalat dengan semangat. Ketika kalian merasa lelah, istirahatlah. ” 

Dalam lakon itu, Zainab istri Rasulullah SAW ingin pula melakukan shalat sebagaimana semangat Rasulullah SAW ketika shalat. Namun Rasulullah SAW berkehendak asing. Beliau memang memerintahkan umatnya untuk selalu ingat kepada Allah Swt. Namun bukan berarti diterjemahkan kalau Rasulullah SAW menuntut umatnya melangsungkan ibadah di luar batas biasa yang dapat berakibat sakit hingga tidak bisa beribadah kembali. Oleh karena itu pesan Rasulullah SAW yang paling mulia kepada umatnya adalah:

“Ketahuilah, amal kebaikan yang menyesatkan dicintai oleh Allah SWT adalah yang paling langgeng (istiqamah) meskipun sedikit” (HR. Bukhari 4646)

Abdullah bin Amr bin Ash termasuk saudara yang giat beribadah. Dia bertanya kepada  Baginda Nabi: “Wahai Rasulullah SAW, selama apakah aku harus mengkhatamkan al-Quran? ” “Sebulan” Jawab Rasulullah SAW. “Aku bisa lebih dari itu”. “25 hari”.

Jawab Nabi SAW. “Aku bisa lebih banyak dari itu” “20 hari” Tanggungan Rasulullah SAW. “Aku bisa bertambah banyak dari itu” “15 hari” Jawab Rasulullah SAW.

“Aku bisa bertambah banyak dari itu” “7 hari” “Aku bisa lebih banyak sejak itu” “Orang yang mengkahtamkan al-Quran tidak kurang dari tiga hari dia tidak meresapi al-Quran” mengakhiri Rasulullah SAW.  

Prinsip utama Rasulullah SAW adalah hambanya dapat beribadah dengan normal. Tidak menghabiskan seluruh waktunya beribadah sehingga kelelahan serta tidak pula berleha-leha mengabaikan pentingnya ibadah. Sketsa beribadah normal merupakan jalan tengah yang ditempuh oleh Tuan Nabi. Sebab agama Islam tak hanya diturunkan kepada orang-orang terbatas.

Petuah islam disampaikan kepada yang tumbuh dan yang kecil. Laki-laki serta perempuan. Yang kuat dan dengan lemah. Yang kaya dan yang miskin. Risalah islam berlaku untuk segenap manusia di penjuru tempat tanpa batasan.

Muadz bin Jabal kembali ke klannya Bani Salamah. Dalam sana, Muadz yang sudah periode mengenyam pendidikan bersama Rasulullah SAW didapuk menjadi Imam shalat. Tempat pun shalat sebagaimana biasanya. Tetapi pada rakaat pertama surat dengan dibaca adalah surat al-Baqarah. Peristiwa ini membuat seorang makmum membinasakan shalat dan memilih shalat seorang diri tidak berjamaah. Kejadian ini lalu didengar oleh Muadz. Dia awut-awutan menuduh orang tersebut sebagai munafik.

Dakwaan Muadz itu ganti didengar sebab orang tersebut. Dia lalu pegari menemui Rasulullah SAW melapor: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami adalah para pekerja yang menggunakan kedua tangan kami untuk bekerja dan menyirami kebun. Kapan hari, Muadz mengimami kami dan membaca salat al-Baqarah. Akupun memilih shalat sendiri. Tetapi justru aku dituduh sebagai seorang munafik”.

Rasulullah SAW berkata kepada Muadz: “Wahai Muadz, apakah engkau hendak membuat orang lari enggan berjamaah?   Apakah engkau hendak membuat orang lari enggan; berjamaah? Apakah engkau hendak membuat orang mangkir enggan berjamaah?. Jika engkau menjadi imam, bacalah surat was syamsi wa duhaha dan sabbihisma rabbikal a’la . Maupun bagian pendek lainnya. karena yang doa bersamamu ada yang tua, yang lemah dan orang yang mempunyai keperluan. (HR. Bukhari 6106)

Begitulah dengan diajarkan oleh Rasulullah SAW. Beliau sangat berbelas kasih kepada orang-orang yang shalat. Pesan beliau nyata. Jangan membuat mereka lama muncul shalat hingga merasa kepayahan. Seandainya ingin shalat dalam waktu yang lama, lakukan sendirian. Ibadah dengan memiliki keterikatan dengan orang asing harus dilakukan dengan wajar dengan memperhatikan kondisi. Meskipun al-Baqarah dengan dibaca Muadz memiliki fadilah yang besar. Namun Nabi Muhammad SAW lebih menganjurkan surat as-Syams. Kesibukan Allah SWTmemang penting namun mengeklaim urusan Allah Swt se-enak miring tanpa mempedulikan orang lain itulah yang keliru. (*)