July 9, 2020
Perbankan Digital Selama Pandemi

Perbankan Digital Selama Pandemi

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Anjuran pemerintah untuk menerapkan social distancing demi menekan penyebaran virus covid-19 menyebabkan masyarakat lebih banyak beraktivitas di rumah. Sesuatu ini berdampak pada meningkatnya transaksi non tunai (cashless) dalam proses pembayaran oleh masyarakat.

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Anjuran pemerintah untuk menerapkan social distancing demi menekan penyebaran virus covid-19 menyebabkan masyarakat lebih banyak beraktivitas di rumah. Hal ini berdampak pada meningkatnya transaksi non tunai ( cashless ) dalam melakukan pembayaran oleh masyarakat.

Masyarakat memilih melakukan pembayaran secara digital. Berdasarkan data Bank Indonesia, transaksi uang kartal yang diedarkan oleh bank Indonesia pada mei 2020 mencapai 798, 6 To   atau tumbuh negatif sebesar 6, 06 persen selama masa pandemi. Sejalan dengan penurunan permintaan uang akibat menurunnya kegiatan dalam masa pandemi.

Bank Indonesia mencatat volume transaksi digital perbankan pada 04 2020 meningkat signifikan sebanyak 37, 5 persen secara tahunan. Sementara kenaikan transaksi uang elektronik   selama pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar(PSBB) pada bulan April 2020 mencapai 64, 48 persen. Perkembangan ini mengindikasikan menguatnya kebutuhan transaksi ekonomi dan keuangan digital serta menguatnya akseptasi masyarakat terhadap pembayaran seacara digital ditengah penurunan aktivitas selama masa PSBB. Peningkatan transaksi digital perbankan   merupakan   sebuah tren yang tidak dapat dihindari.

Berada di era Revolusi industri 4. 0, digitalisasi bank merupakan suatu keharusan bagi sistem perbankan. Perbankan ditantang untuk terus berinovasi dan membuat terobosan baru di dalam menyediakan   layanan kepada nasabah. Sejalan dengan perkembangan dan kemajuan teknologi, bank ditantang untuk semakin bersaing dalam meningkatkan pelayanan serta lebih adaptif terhadap kebutuhan nasabahnya.  

Digitalisasi bank sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Terlebih dikondisi seperti ini penggunaan uang electronic semakin besar penggunaannya. Sesuai dengan himbauan WHO untuk mengurangi transaksi menggunakan uang tunai, maka duit digital semakin diminati dalam melakukan transaksi,. Itulah sebabnya bank perlu beradaptasi dan berinovasi untuk menjaga eksistensinya.

Trade Off Antara Electronic Banking dan Perbankan Konvensional 

Meningkatnya angka transaksi digital sesuai data yang dikeluarkan Bank indonesia sebesar mencapai 64, 48 persen pada April 2020, menunjukkan bahwa masyarakat sudah lebih nyaman melakukan transaksi perbankan secara digital. Fenomena terkait membuktikan bahwa Pandemi ini mampu mempercepat digitalisasi dan otomatisasi. Buat beberapa kalangan, transaksi non-tunai telah lebih digemari daripada transaksi tunai. Artinya, perbankan secara digital semakin banyak diterima di kalangan penduduk.

Transformasi Transaksi perbankan dari konvensional   ke digital semakin nyata. Sejumlah layanan perbankan   yang diterapkan oleh manusia kini dapat diselesaikan mesin dan piranti lunak dengan waktu yang lebih cepat lalu efisien. Kenyamanan yang dihadirkan dalam transaksi perbankan secara digital kepada nasabah secara tidak langsung memangkas kemungkinan masyarakat untuk bertransaksi pada kantor cabang.

Transaksi digital ini sangat bermanfaat bagi masyarakat dan kota yang telah dilengkapi dengan akses internet yang baik. Namun, buat masyarakat yang berada di kota yang akses internet dan teknologinya terbatas, uang digital bukanlah pilihan yang tepat. Mereka harus tetap pergi ke bank untuk mendapatkan layanan perbankan.  

Nasabah perbankan   juga masih memerlukan untuk konsultasi tatap muka terhadap kondisi keuangan mereka. Konsultasi tatap muka diperlukan dalam memberikan wawasan dan cara bertindak atas suatu permasalaahn terkait perbankan kepada nasabah. Namun ditengah pandemi ini konsultasi tatap muka tidak dapat dilakukan, untuk mengantisipasi tersebut bank menyediakan konsultasi bagi nasabah yang mengalami dampak terhadap keuangannya akibat pandemi ini. Walaupun layanan konsultasi ini dapat diterapkan secara digital, tetapi layanan konsultasi tatap muka masih diperlukan.

Ini jadi tugas perbankan untuk menggali dan mengembangkan inovasi dalam pelayanannya benar secara digital maupun konvensional. Melihat perkembangan terkini, pembayaran digital bukan hanya menjadi tren masa kini, tetapi telah menjadi kebutuhan masyarakat dalam pemenuhan transaksi-transaksi keuangannya. Diperlukan kerja sama antara bank serta nasabah dalam menciptakan transaksi keuangan secara digital yang kondusif serta aman.

Dengan transformasi digital, masyarakat diharapkan untuk mengadopsi teknologi baru dan beradaptasi dengan cara kerja yang baru. khususnya di tengah kondisi pandemi ini perlu dilakukan adaptasi tertentu sehingga nasabah bank menjadi terbiasa dengan layanan digital perbankan dengan meminimalisasi keterlibatan manusia.

Hal ini menunjukkan bahwa bank harus dapat beradaptasi dengan teknologi dan mampu bekerja sama dengan pihak-pihak lain termasuk perusahaan monetary technology sehingga efesiensi dan efektivitas layanan perbankan meraih disempurnakan atau ditingkatkan.  

***

*) Oleh: Ludya Thennyca Simamora, Mahasiswi Politeknik Keuangan Negara STAN Prodi DIII Kebendaharaan Negara.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia. co. id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Philippines terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4. 000 karakter / sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto sendiri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia. company. id

*) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.