November 30, 2020
Lilium: Taksi Udara Bukan Lagi Ideal

Lilium: Taksi Udara Bukan Lagi Ideal

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Lilium sebuah perusahaan awal up sebentar lagi akan mewujudkan semua imajinasi manusia tentang periode depan melalui produk mereka yakni taksi udara. Mereka bahkan telah mendapatkan investasi sebesar 35 juta dolar America dari Billie Gifford, seorang bilioner yang juga berinfestasi di perusahaan Tesla.

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Lilium sebuah kongsi start up sebentar lagi akan merealisasikan semua imajinasi manusia tentang masa depan melalui produk itu yakni taksi udara.

Mereka bahkan sudah mendapatkan investasi sebesar 35 juta dolar America dari Billie Gifford, seorang bilioner yang juga berinfestasi di perusahaan Tesla.

Tahun lalu Lilium telah meluncurkan taksi jet perdana mereka dengan kapasitas 5 orang penumpang. Jet ini didukung oleh tenaga dari 36 mesin jet listrik yang ditempatkan dikedua sisi sayap. Lilium merupakan perusahaan awal up pesaing Uber yang juga sedang mengembangkan teknologi yang setara.

Lilium mencapai puncak kejayaan pada kamar Oktober tahun lalu ketika menyelesaikan fase pertama pengujian untuk prototipe Lilium Jet.

“Sebanyak 400 orang insinyur kami telah bekerja keras terang dan malam untuk menciptakan laskar futuristik ini. Mereka memikirkan pada setiap detail rancangan demi kenyamanan konsumen, ” ujar Remo Gerber, besar bidang penjualan Lilium seperti dilansir dari CNBC.

Lilium juga menjelaskan bahwa peerusahaan itu akan menarik ongkos sebesar $ 70 (70 dolar Amerika) pada setiap 6 menitnya (rute Bandara Manhattan ke Bandara JFK). Penerbangan tersebut direncanakan akan dimulai pada tahun 2025.

Gerber mengatakan Lilium telah mempertimbangkan dengan para petinggi tentang infrastruktur yang diperlukan untuk meluncurkan taksi udara tersebut secara komersial. Lilium berharap bandar udara pertama mereka mampu diselesaikan dalam hitungan kaum bulan ke depan.

Pandemik corona dengan menyerang seluruh dunia juga sudah membuat kinerja perusahaan termasuk pembuatan taksi udara melambat. Namun seluruh insinyur di Lilium  tetap main meskipun dari rumah. Mereka yang harus bekerja di lapangan, diperlakukan dengan standar protokol bekerja era Covid-19.   (*)