July 9, 2020
Hawa Mengukur Dampak New Normal

Hawa Mengukur Dampak New Normal

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Pada saat kebijakan New Lazim mulai menarik diskursus di bagian publik kita msih menunggu rencana sebenarnya dalam praktek di lapangan nanti. New Normal bukan sepi mengenai resiko lain sebagaimana unsur penyebab utamanya yaitu Covid-19. Perlu diperhatikan masalah sosial dan potongan ketahanan masyarakat menjalani situasi baik baru ini. Tidak pelik untuk kalangan perempuan…

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Pada saat kebijakan New Normal mulai menarik diskursus pada ruang publik kita msih menduduki skema sebenarnya dalam praktek di lapangan nanti. New Normal bukan sepi mengenai resiko lain sama dengan unsur penyebab utamanya yaitu Covid-19. Perlu diperhatikan masalah sosial & postur ketahanan masyarakat menjalani situasi sosial baru ini. Tidak ganjil bagi kalangan perempuan sudah tentu ada masalah yang cukup konpleks dalam beragam aspek.

Angka awal menunjukkan bahwa angka perempuan dan pria terinfeksi oleh COVID-19 dalam jumlah yang kira-kira sama, tetapi tingkat kematian lebih tinggi untuk pria. Hal ini berpotensi disebabkan oleh perbedaan imunologis atau gender bersandarkan jenis kelamin, seperti prevalensi acara merokok. Namun, kelangkaan data terpilah gender membuat perbandingan efektif menjelma sulit. Selain itu, penelitian tentang epidemi sebelumnya, seperti SARS & Ebola, menunjukkan bahwa perempuan dipengaruhi secara berbeda oleh krisis kesehatan tubuh dan epidemi.

Kematian saja tidak sepenuhnya menunjukkan cara-cara di mana hawa dan laki-laki rentan terhadap risiko langsung epidemi, atau bagaimana itu mengalami ancaman dan konsekuensi jangka panjang. Norma, sikap, dan praktik budaya yang ditentukan secara baik terkait dengan gender memainkan posisi penting dalam bagaimana masing-masing rani dan laki-laki terpengaruh.

Tanggung Berat Kepedulian Dan Kesejahteraan Psikologis

Perempuan sering menjadi pengasuh utama di rumah mereka, komunitas, dan fasilitas kesehatan, yang menempatkan mereka di dalam risiko yang meningkat terkena COVID-19. Di Inggris, 77% tenaga kerja NHS dan mayoritas pengasuh rileks adalah perempuan. Secara lebih umum, analisis 104 negara mengungkapkan kalau perempuan membentuk perkiraan sekitar   70% pekerja di sektor kesehatan tubuh dan sosial, dan 50% pengasuh yang tidak dibayar.

Pada saat yang sama, lebih dari 70% CEO dan kursi dewan di kesehatan tubuh global adalah laki-laki, sementara cuma 5% di antaranya adalah hawa dari negara berpenghasilan rendah dan menengah. Meskipun begitu banyak perempuan bekerja di garis depan Covid-19, oleh karena itu, perempuan, memiliki sedikit suara dalam langkah-langkah kebijaksanaan yang diberlakukan untuk mengatasi krisis.

Insiden dan laporan kekerasan terhadap hawa dalam rumah tangga juga menyusun. Ini menunjukkan pada tekanan mental laki-laki karena kehilangan pekerjaan & penghasilan jangka pendek, dan karakter kekerasan dan/atau pengurungan di vila dengan pasangan yang kasar selama penguncian. Akibatnya, dalam jangka panjang kesejahteraan psikologis perempuan mungkin akan terpengaruh bahkan lebih buruk daripada laki-laki dari tekanan finansial & emosional, dikombinasikan dengan kekerasan wujud.

Konsekuensi ekonomi COVID-19 untuk hawa

Di daerah pedesaan, keterlibatan rani dalam pertanian dapat meningkat pada daerah-daerah di mana ada cacat tenaga kerja karena berkurangnya jumlah pekerja migran. Misalnya di India, selama musim panen tahun tersebut (Maret-April), banyak migran telah tukar kembali ke rumah mereka. Hal ini dapat menghasilkan upah pertanian yang lebih tinggi bagi perempuan dalam jangka pendek. Oleh karena itu, permintaan waktu perempuan molek dalam maupun di luar vila tangga dapat meningkat di pedesaan India. Efek bersih pada peruntukan waktu perempuan akan tergantung di dalam manfaat relatif bersih dari zaman di rumah dan di sungguh.

Di daerah perkotaan, karena proporsi tim inti yang lebih besar, perempuan mungkin diperlukan untuk mendukung anak dengan berada di rumah buat merawat yang sakit atau sebab kehilangan pekerjaan atau penghasilan di dalam waktu dekat. Namun, dalam masa panjang, jika bekerja dari vila menjadi norma, lebih banyak peluang kerja tersedia bagi perempuan yang sering lebih menyukai pekerjaan berbasis rumahan.

Selain itu, di banyak negara, partisipasi perempuan dalam pasar tenaga kerja seringkali dalam bentuk order sementara. Di seluruh dunia, perempuan mewakili kurang dari 40% lantaran total pekerjaan tetapi merupakan 57% dari mereka yang bekerja cucuk waktu. Di banyak negara Afrika sub-Sahara, pembatasan perjalanan akan membatasi banyak perempuan di sektor rileks, yang bergantung pada pendapatan yang diperoleh setiap hari, dari memperhadapkan domba perdagangan mereka.

Penutupan Sekolah dan Kerentanan Perempuan

Banyak hawa juga harus mengajari anak-anak mereka karena pemerintah di seluruh negeri telah sementara menutup sekolah untuk menahan penyebaran Covid-19. Ada kewaswasan yang meningkat tentang dampak penutupan sekolah ini terhadap lebih lantaran 111 juta anak perempuan yang tinggal di negara-negara yang tersentuh dampak kemiskinan atau konflik berlebihan, di mana kesenjangan gender di pendidikan adalah yang tertinggi. Dalam Mali, Niger, dan Sudan Daksina, tiga negara dengan tingkat pendaftaran dan penyelesaian terendah untuk budak perempuan, penutupan telah memaksa lebih dari empat juta anak rani keluar dari sekolah.

Sementara itu, di Zambia, di mana tingkat bani perempuan putus sekolah dari posisi tujuh dan seterusnya hampir perut kali lipat jumlah anak pria, pemerintah memutuskan untuk menutup semua sekolah sebelum satu kasus virus corona dilaporkan. Dalam jangka menengah hingga jangka panjang, penutupan madrasah akan berdampak negatif pada buatan pendidikan baik untuk anak perempuan maupun anak laki-laki. Tetapi yang lebih mengkhawatirkan, mengingat kesulitan ekonomi yang ditimbulkan COVID-19 dan meningkatnya risiko kehamilan remaja selama penguncian, banyak anak perempuan tidak mampu kembali ke sekolah lagi.

Rekomendasi kebijakan

International Labour Organization (ILO) memperkirakan bahwa langkah-langkah pembatasan lengkap atau sebagian sekarang mempengaruhi dekat 2, 7 miliar pekerja, mewakili sekitar 81% dari tenaga kegiatan dunia, sementara IMF memproyeksikan pengurangan signifikan dari output global pada tahun 2020. COVID-19 sedang meluncurkan ekonomi dunia menuju resesi global, yang akan sangat berbeda sebab resesi masa lalu.

Bukti yang hidup tentang dampak COVID-19 menunjukkan bahwa kehidupan ekonomi dan produktif hawa akan terpengaruh secara tidak proporsional dan berbeda dari laki-laki. Di seluruh dunia, perempuan mendapat lebih sedikit, menabung lebih sedikit, memiliki pekerjaan yang kurang aman, bertambah cenderung dipekerjakan di sektor rileks. Mereka kurang memiliki akses ke perlindungan sosial dan merupakan kebanyakan rumah tangga pengampu tunggal. Karenanya, kapasitas mereka untuk menyerap guncangan ekonomi lebih kecil daripada laki-laki.

Kala perempuan menerima tuntutan perawatan dengan lebih besar di rumah, pekerjaan mereka juga akan secara tak proporsional dipengaruhi oleh pemotongan dan PHK. Dampak semacam itu berisiko mengembalikan keuntungan yang sudah rapuh yang diperoleh dari partisipasi pasukan kerja perempuan, membatasi kemampuan hawa untuk menghidupi diri sendiri serta keluarga mereka, terutama bagi rani yang dikepalai perempuan.  

Para penyelenggara kebijakan perlu memasukkan analisis gender ke dalam pengembangan kebijakan Covid-19 dan ketika pandemi ini terungkap, ada kebutuhan mendesak untuk keterangan terpilah berdasarkan jenis kelamin untuk memahami sepenuhnya bagaimana perempuan serta laki-laki dipengaruhi oleh virus. Mengalami dampak penguncian pada perempuan & anak perempuan dapat mengarah di pengembangan dan implementasi langkah-langkah kebijakan efektif lainnya. Demikian pula, menilai aspek gender dari meminimalkan kekacauan dan mempertahankan rantai pasokan buat barang-barang penting cenderung mengarah dalam hasil yang lebih baik untuk semua, pria dan perempuan.

Transfer uang tunai tanpa syarat kepada pemegang rekening bank perempuan diharapkan sanggup meningkatkan status finansial dan intra-rumah tangga penerima perempuan, serta ketenteraman psikososial mereka. Oleh karena tersebut, pemerintah harus menargetkan penerima manfaat dalam skema sebanyak mungkin buat memastikan jangkauan maksimal.

Ketika dampak dikurangi, menciptakan portal informasi yang mampu diakses tentang ketersediaan pekerjaan hendak membantu laki-laki dan perempuan betul dengan calon majikan, terutama dalam daerah perkotaan. Lebih dari sebelumnya, teknologi akan menjadi inti dari “New Normal” dan menjembatani kesenjangan digital akan meningkatkan peluang budak perempuan dan perempuan untuk mengakses pendidikan dan pekerjaan.
Kudu diakui, kita hanya mempelajari implikasi sosial-ekonomi dari krisis kesehatan tersebut saat terungkap. Untuk mengatasi buah gender, seseorang harus memperhitungkan petunjuk bahwa implikasi jangka pendek barangkali berbeda dari jangka panjang. Kira-kira ada kekuatan yang bekerja di kedua arah, mengurangi versus memajukan ketidaksetaraan gender. Karena itu, kita harus memiliki alat kebijakan dengan fleksibel untuk mengatasi masalah rani karena dampak dari krisis kesehatan tubuh berkembang seiring waktu.  

***

*) Penulis:   Estetika Handayani (Direktur Estetika Handayani)

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjelma bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia. co. id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah suntuk 4. 000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat tumbuh singkat beserta Foto diri serta nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia. co. id

*) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.