July 9, 2020
Derma Bukti Keshalehan Personal dan Baik

Derma Bukti Keshalehan Personal dan Baik

TIMESINDONESIA, JAKARTA – “Islam dibangun atas lima pekara. (1) Pengakuan bahwa tiada Tuhan selain Tuhan, dan Muhammad Rasul Allah, (2) mendirikan shalat, (3) membayar derma, (4) melaksanakan ibadah haji, & (5) berpuasa Ramadhan”. - (HR Bukhari dan Muslim)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – “Islam dibangun untuk lima pekara. (1) Persaksian kalau tiada Tuhan selain Allah, serta Muhammad Rasul Allah, (2) menyusun shalat, (3) membayar zakat, (4) melaksanakan ibadah haji, dan (5) berpuasa Ramadhan”. – (HR Bukhari dan Muslim)

Zakat adalah ibadah wajib bagi semua umat Islam serta termasuk dalam rukun Islam ke-3. Secara bahasa, zakat artinya terang, suci, berkat dan berkembang. Secara etimologis, zakat mengacu kepada sebanyak harta tertentu (baik berupa kekayaan atau benda) yang wajib dikeluarkan oleh setiap orang yang taat Islam dan diberikan kepada dengan berhak menerimanya (mustahiq) dari hak seorang yang telah sampai pemisah nisab pada setiap tahunnya. (an-Nawawi, asy-Syarwani dan Zain ad-Din al-Malibari, dan Asy-Syaukani).

Untuk memperjelas makna derma dapat dipahami dari posisinya dalam rukun Islam. Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw  bersabda: “Islam dibangun atas lima pekara. (1) Pengakuan bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad Rasul Allah, (2) mendirikan shalat, (3) membayar derma, (4) melaksanakan ibadah haji, dan (5) berpuasa Ramadhan”. [HR Bukhari dan Muslim].

Sebagai rukun Islam ke-3, itaaiz zakaati, tidak dimaknai dengan mengeluarkan zakat, melainkan dimaknai sebagai MEMBAYAR derma. Mengeluarkan memiliki pengertian, bisa mengeluarkan dan bisa tidak. Jika tak mengeluarkan, maka tidak ada konsekuensinya apa-apa. Namun jika dimaknai sebagai MEMBAYAR, maka konsekuensinya harus bayar. Jika tidak membayar, berarti statusnya menjadi HUTANG. Karena kita kudu menjaga diri, bagaimana kita terlepas dari hutang. Pada posisi itu membayar zakat menjadi KEBUTUHAN tidak beban.

Zakat secara syar’iyyah terdiri untuk dua, yaitu pertama, zakat darah bagi mukminin yang menunaikan ibadah puasa Ramadan, bahkan tidak bisa pun juga bisa disiasati untuk tetap bisa menyelesaikannya. Jika tidak sebelum Khatib Id naik minbar, maka zakatnya dianggap shodaqah.

Dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata: Rasulullah saw telah mewajibkan zakat fithri untuk menyucikan orang yang berpuasa dibanding perkara sia-sia dan perkataan ceroboh, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin.

Barangsiapa menunaikannya sebelum shalat (‘Id), maka itu adalah zakat dengan diterima. Dan barangsiapa menunaikannya sesudah shalat (‘Id), maka itu ialah satu shadaqah dari shadaqah-shadaqah“ (HR Abu Dawud).

Kedua, Zakat mal bagi yang memiliki harta yang sudah memenuhi nishabnya, yang meliputi (zakat penghasilan, zakat perdagangan, zakat aurum, dan zakat tabungan). Zakat ini wajib dilakukan setiap tahunnya.

Untuk kesempurnaannya zakat harus sampai ke mustahiq, yang tertuang dalam QS At Taubah: 60, yaitu “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang darwis, orang-orang miskin, para pengurus zakat(amilin), para mu’alaf yang memerdekaan pelayan. Sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah SWT; dan Allah SWT maha mengetahui lagi maha bijaksana”.

Zakat itu begitu penting dalam Islam, karena merupakan ibadah mahdzoh, yang memiliki dimensi vertikal, hablum minallah, kesholehan personal, dan dimensi mem, hablum minannaas, kesholehah sosial.

Zakat merupakan alat penyuci diri dan harta sekaligus. Hal ini sesuai firman Allah: ”Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan itu dan berdoalah untuk mereka. Mukminin sejati pasti menyadari bahwa masa Allah menjadikan zakat sebagai asas Islam, maka zakat merupakan ibadah yang memiliki makna sangat istimewa bagi manusia baik secara personal maupun kolektif.

Begitu pentingnya, Allah menyebutnya 28 kali dalam Al Qur-an bersama dengan perintah ibadah sholat, yang merupakan tiang agama. Dapat dipastikan ada hikmah besar pada balik wajibnya berzakat.

Adapun hikmah secara personal dan sosial yang mampu dipetik dari ibadah zakat, dalam antaranya sebagai berikut.  

1. Memenuhi Iman

Berzakat kepada mereka yang mempunyai menerima merupakan salah satu pilar agama Islam. Setiap muslim tentu berusaha melaksanakan amalan ini buat menyempurnakan iman. Rasulullah SAW bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidak lah beriman (dengan iman sempurna) datang ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. ” (HR. Bukhari)

2. Menjadi bukti keimanan dan ketaatan

Dengan membayar zakat, atau sedekah, kita sudah menunjukkan keimanan & ketaatan kita kepada Allah swt. Rasulullah saw bersabda: “Bersuci merupakan separuh dari keimanan, ucapan ‘Alhamdulillah’ akan memenuhi timbangan, ‘subhanallah walhamdulillah’ akan memenuhi ruangan langit serta bumi, shalat adalah cahaya, dan sedekah itu merupakan bukti religiositas. ”(HR. Muslim)⠀

3. Membersihkan hati dan diri

Dengan membayar zakat, muslim sudah masuk ke dalam kelompok karakter dermawan dan memencil dari ikatan orang-orang kikir. Hal ini bertemu firman Allah: ”Ambillah zakat daripada sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk itu. Sesunggunya doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. & Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui, ” (QS. At Taubah: 103).

4. Menenangkan hati

Berzakat melatih pengikut muslim untuk ikhlas, mengharapkan ridlo Allah dan pribadi tenang, karena zakat menjadi teman di akhirat. Demikian juga, jika dilakukan secara ikhlas dan tanpa paksaan, zakat bermanfaat melatih kita menjadi karakter yang ikhlas dan tulus melangsungkan kebajikan bagi orang lain.

Allah swt berfirman yang artinya: (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat”. (QS Luqman: 4)

5. Mencapai keimanan yang sempurna

Membayar zakat adalah menyempurnakan keimananan, Rasulullah SAW bersabda, “Salah seorang di jarang kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya tunggal. ” (HR. Bukhari)

6. Memperoleh tiket  ke Surga

Manfaat zakat selanjutnya ialah pahala yang diperoleh dapat menjadi “tiket” yang melancarkan dan mengambil perjalanan kita ke Surga. Rasulullah saw bersabda bahwa “surga adalah untuk “mereka yang bertutur jarang, menyebarkan salam Islam, memberi dahar orang-orang dan bermalam dengan menaikkan doa secara sukarela ketika orang-orang sedang terlelap. ”(HR. At-Tirmidzi)

7. Menghapus dosa

Berbuat kebaikan dapat menambah pahala dan mengurangi dosa kita, ataupun bahkan menghapusnya. Rasulullah SAW berfirman, “Amal memadamkan dosa sebagaimana cairan memadamkan api. ” (Dalam HR. At-Tirmidzi dan An-Nasaa’i).

8. Terbiasa positif sesama

Manfaat zakat selanjutnya adalah mendaulat umat Islam sebagai satu anak besar, yang saling membantu kepala sama lain. Di sini muncul rasa empati.   Allah swt berfirman dalam QS Al Qashash: 77, yaitu “Dan berbuat akur (kepada orang lain), sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. ”

9. Menghilangkan rasa iri dan waham

Dengan berzakat diharapkan akan mengurangi menikmati iri atau prasangka buruk dengan ada pada orang yang invalid beruntung. Rasulullah saw, bersabda: “Tidak ada iri hati kecuali kepada dua perkara, yakni seorang yang diberi Allah harta lalu dia belanjakan pada jalan yang betul, dan seorang yang diberi Tuhan ilmu dan kebijaksaan lalu tempat melaksanakan dan mengajarkannya. ” (HR. Bukhari)

10. Mencegah kriminal

Manfaat zakat yang lain adalah ikut andil dalam menghalangi kejahatan seperti perampokan atau pencurian. Rasulullah saw bersabda “Bentengilah harta kalian dengan zakat, obatilah orang-orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah dan siapkanlah doa untuk menghadapi musibah. ” ( HR Ath Thabrani).

11. Merendahkan ganjil

Zakat merupakan kewajiban yang harus dikerjakan, tetapi bukan secara terang-terangan. Sesungguhnya Allah swt tidak menyukai hambanya yang berhati tinggi. Rasulullah saw bersabda “Amal yang diberikan secara rahasia dapat memadamkan kemurkaan Tuhan SWT. ” (Dalam HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Hiban)

12. Meningkatkan kehormatan

Zakat yang kamu berikan juga berguna untuk meningkatkan dan menyucikan kekayaan. Sebab, orang kikir hidupnya hendak dirundung kesulitan yang justru hendak merugikan diri sendiri.

Rasulullah saw berkata; “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang dengan memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang dengan merendahkan diri karena Allah, memperbedakan Allah akan mengangkat derajatnya. ” (HR. Muslim)

13. Membersihkan harta

Zakat berguna untuk membersihkan harta, maksudnya merupakan membersihkan harta yang dimiliki secara cara memberikannya kepada yang mempunyai.

Tuhan swt berfirman, “Sesungguhnya zakat-zakat tersebut, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, buat jalan Allah dan untuk itu yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketepatan yang diwajibkan Tuhan, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS At-Taubah ayat 60).

14. Meningkatkan keberkahan harta

Zakat adalah kunci agar harta kita menjelma berkah. Harta yang berkah hendak membuat pemiliknya selalu tenang. Rasulullah saw bersabda: Harta tidak bakal berkurang karena sedekah (zakat) serta tidaklah Allah menambah bagi saya yang pemaaf kecuali kemuliaan & tidak lah orang yang aci tawadhu’ karena Allah melainkan Tempat akan meninggikannya (HR. Muslim)

15. Memperluas distribusi harta

Zakat mampu mendistribusikan harta secara luas. Allah SWT berkata, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa secara sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: 100 biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Qs. Al-Baqarah: 261).

Demikianlah jika kita tidak berharta membersihkan diri dan harta, oleh sebab itu kita dinilai sebagai pendusta pegangan. Bahkan juga dianggap tidak mampu memenuhi fardhu ‘ain. Suatu nama yang seharusnya kita jauhi serta hindari. Kita harus terus berusaha menunjukkan ketaatan yang ikhlas di dalam menunaikan ibadah mahdhah.

Lebih utama sedang jika bisa menyempurnakan zakat dengan kebiasaan baik untuk shodaqah dan infaq. Utamanya kita bisa menjalankan amanah harta dengan baik. Bangunan yang seimbang antara hablum minallah dan hablum minannaas. Dengan begitu kita tidak hanya membangun kesibukan kita yang diwarnai dengan kesholehan personal, melainkan juga kesholehan baik. (*)

*) Penulis adalah Prof Dr Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Periode 2009-2017, anggota Mustasyar PW Nahdlatul Ulama (NU) DIY, Pengurus ICMI Pusat, Dewan Pakar Psyco Education Centre.

*)  Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung tanggungan redaksi  timesindonesia. co. id

***

**)   Kopi TIMES atau  ruangan opini di TIMES Indonesia  terbuka untuk umum. Panjang naskah suntuk 4. 000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri & nomor telepon yang bisa dihubungi.

**)   Naskah dikirim ke alamat e-mail:   opini@timesindonesia. co. id

**)  Redaksi berhak tidak menayangkan paham yang dikirim apabila tidak bertemu dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.