August 15, 2020
Filantropi di Era Pandemi Covid-19

Filantropi di Era Pandemi Covid-19

TIMESINDONESIA, PROBOLINGGO – Diutusnya Nabi Muhammad ke muka bumi tidak sekedar untuk mengajak manusia melaksanakan ibadah ritual semata, melainkan melaksanakan nila-nilai kemanusiaan (filantropi). Disinilah mayoritas tokoh umat muslim berkata bahwa Islam merupakan agama yang konprehensif yang di dalamnya memuat ajaran-ajaran berhubungan dengan Tuhan (ibadah mahdhoh) juga ajaran-ajaran yang berhubungan dengan sesama mahluk Tuhan (ibadah ghairi…

#@@#@!!

TIMESINDONESIA, PROBOLINGGO – #@@#@!! Diutusnya Nabi Muhammad ke muka bumi tidak sekedar untuk mengajak manusia melaksanakan ibadah ritual semata, melainkan melaksanakan nila-nilai kemanusiaan (filantropi). Disinilah mayoritas tokoh umat muslim berkata bahwa Islam merupakan agama yang konprehensif yang di dalamnya memuat ajaran-ajaran berhubungan dengan Tuhan (ibadah mahdhoh) juga ajaran-ajaran yang berhubungan dengan sesama mahluk Tuhan (ibadah ghairi mahdhoh).

#@@#@!! #@@#@!!

Sebagai agama yang mengajarkan hubungan dengan Tuhan, Islam memberikan bekal pengetahuan tentang cara dalam menjalankan perintahNya yang disebut dengan syariat, agar dapat melaksanakan perintah tersebut dengan baik dan benar. Syariat ini merupakan barometer seseorang dalam melaksanakan perintah Tuhannya. Dan apabila ada seseorang dalam melaksanakan ketaatan kepada Tuhan, namun ia tidak menggunakan syariat sebagai acuan perilakunya, maka tindakan itu keluar dari ajaran agama. Bagaimana dengan melaksanakan perintah Tuhan yang bersifat ibadah sosial?

#@@#@!! #@@#@!!

Agama Islam tidak memberikan konsep paten berkait tehnis di dalam melaksanakan perintah ini. Islam hanya memberikan pemahaman-pemahaman yang besifat umum terkait tujuan yang diinginkannya (maqosidul a’dham). Mayoitas ulama memahami nash yang berhubunngan dengan ibadah sosial dari segi maqosidnya bukan semata memahami teksnya semata.  

#@@#@!! #@@#@!!

Islam dan Kemanusiaan 

#@@#@!! #@@#@!!

Berbagi kebahagiaan dengan sesama pada hakikatnya tidak terikat dengan waktu, tempat dan orang yang mau diberi. Sebab, perilaku semacam ini bisa dilaksanakan kapanpun, dimanapun dan kepada siapapun tanpa melihat perbedaan suku dan agama. Praktik ini bisa amalkan dalam kondisi ekonomi yang stabil maupun tidak. Karena ibadah sosial itu memiliki fungsi, disamping untuk memberikan keringanan, kesejahteraan dan sebagai alat untuk mempererat ukhuwah serta didalamnya terdapat upaya untuk membersihkan hati dari sifat kikir.   Menjadi kurang sempurna keimanan seseorang apabila ia dalam memberikan bantuan atau berbagi nikmat masih terikat dengan waktu, tempat dan orang yang mau diberi bantuan.  

#@@#@!! #@@#@!!

Para pengamat dan sarjana seperti Yadh been Ashoor, Ameur Zemmali, Zayyid Ibn Abdel Kareem al-Zayyid, Wahbah al-Zuhaili, Saleem Marsoof, James Cockayne, Jonathan Benthall yang telah menelaah hukum humaniter di Dunia Islam berpandangan bahwa gagasan tentang prinsip dan hukum humaniter masih belum ajeg.

#@@#@!! #@@#@!!

Pasalnya, terlalu kentalnya perbedaan pandangan-pandangan di kalangan ulama islam tentang hal-hal seperti jihad, posisi non muslim dalam masyarakat muslim. Padahal dalam urusan kemanusiaan seyogyanya tidak terhalangi oleh perbedaan-perbedaan keyakinan. Ada celutakan yang menarik dari seorang teman saya, masa sih, kalau mau membantu orang harus melihat agama apa? Ya, kalau demikian banyak orang-orang yang mati kelaparan. Nabi Muhammad saja, memberikan makan saban hari kepada orang buta yang jelas memusuhi islam dan dirinya dengan penuh kasih sayang tanpa sedikutpun terpengaruh dengan ejekan dan ancamannya.

#@@#@!! #@@#@!!

Pandemi Covid-19, Peluang untuk Berbagi Pada Sesama

#@@#@!! #@@#@!!

Dalam kondisi seperti saat ini, sangat besar peluang kita untuk berbagi nikmat dan kebahagiaan dengan orang lain. Dimana masyarakat yang terdampak pandemi covid-19 sangat banyak sekali. Mereka tidak bisa bekerja dengan maksimal dan bahkan para buruh pabrik, buruh tani, pedagang kaki lima dan selainnya telah mengalami kesempitan ekonomi. Tidak jarang dari mereka berteriak-teriak untuk meminta bantuan kepada pemerintah dan kepada orang lain.

#@@#@!! #@@#@!!

Agama mengajak penganutnya untuk hadir di tengah-tengah mereka agar bisa meringankan bebannya. Tidak dibenarkan menutup mata terhadap mereka yang membutuhkan uluran tangan, lebih-lebih apabila kita mempunyai kelebihan ekonomi. Nabi Muhammad bersabda, #@@#@!! Irhamu man fil ardhi, yarhamukum man fi as-sama #@@#@!! (Kasihanilah orang-orang yang ada dibumi, niscaya zat yang berada di langit akan mengasihimu). Dalam hadits lain beliau bersabda, #@@#@!! laisal mukmin billadzi yasyba’u wa jarahu jaa’iun ila jaanibihi #@@#@!! (Bukanlah muslim orang yang kondisi kenyang, sementara tetangga disampingnya kelaparan).

#@@#@!! #@@#@!!

Islam Agama Rahmatan lil-‘Alamin

#@@#@!! #@@#@!!

Islam secara tegas menjelaskan posisinya sebagai rahmatan lil-‘alamin sebagaimana disebut dalam alqur’an surah al-anbiya, 107: “dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. Rahmat yang berati belas kasih kepada semua umat manusia. Berbelas kasih dalam melimpahkan nikmat kepada alam semesta. Karena itulah umat Nabi Muhammad harus bisa mendatangkan sifat kasih sayang, yang akan mampu mewujudkan kesejahteraan, kedamaian bagi umat manusia bahkan bagi alm senesta.

#@@#@!! #@@#@!!

Sebagai umat yang baik, harus selalu menjaga diri dari ancaman agama agar tidak diberi label orang yang mendustakan agama. Mendustakan agama adalah salah satu sifat yang harus di jauhi dan pada surah al-Ma’un digambarkan secara jelas dan ciri bahwa orang yang mendustakan agama diantaranya adalah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mau berbagi nikmat dengan orang-orang yang membutuhkan. Dan ini merupakan kata kunci seseorang dibebut dengan pendusta agama. Na’udzubillah.  

#@@#@!! #@@#@!!

***

#@@#@!! #@@#@!!

*Oleh: Ponirin Mika, Kepala Bagian Hubungan Masyarakat PP. Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community Of Critical Social Research.

#@@#@!! #@@#@!!

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia. co. id

#@@#@!! #@@#@!!

*) #@@#@!! Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4. 000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

#@@#@!! #@@#@!!

*) #@@#@!! Naskah dikirim ke alamat e-mail: #@@#@!! opini@timesindonesia. co. id

#@@#@!! #@@#@!!

*) #@@#@!! Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.

#@@#@!!