November 30, 2020
The New Normal Akibat Pandemi Covid-19

The New Normal Akibat Pandemi Covid-19

TIMESINDONESIA, JAKARTA – New normal adalah sejenis waktu di mana Anda menyetujui beradaptasi dan menjalani tatanan anyar untuk jangka panjang. Tetap beraktivitas tapi dengan mengikuti protokol kesehatan tubuh secara baik dan benar dalam tengah pandemi Covid-19.

TIMESINDONESIA, JAKARTA – New normal adalah suatu waktu pada mana Anda bersedia beradaptasi dan menjalani tatanan baru untuk jangka panjang. Tetap beraktivitas tapi dengan mengikuti protokol kesehatan secara baik dan benar di tengah pandemi Covid-19.

Masyarakat diminta bersiap dengan kondisi new normal saat pandemi virus corona atau Covid-19. Istilah tersebut memang terkesan baru. Beberapa kamar belakangan keseharian hidup kita sudah banyak berubah.

Sejak Covid-19 dinyatakan pandemi oleh World Health Organization (WHO), banyak kebiasaan baru yang kita jalani dan perlahan menjadi objek yang normal, atau disebut dengan new normal. Setelah PSBB dilonggarkan atau dicabut, apakah hidup hendak kembali normal? Atau kita hendak mulai terbiasa dengan perubahan serta melanjutkan keadaan new normal?

Keadaan New Normal Akibat Pandemi Covid-19

Sejak Maret 2020, pemerintah Indonesia menerapkan pemisahan sosial berskala besar (PSBB) jadi upaya meratakan kurva angka kasus infeksi Covid-19.

Penerapan tersebut menimbulkan penuh efek psikologis karena paksaan mutasi kehidupan sosial akibat pandemi Covid-19. Banyak orang mulai hidup di dalam masa transisi yang mana sebagian besar merasa terseok-seok mengikuti transformasi cepat ini.

Para pekerja harus menyelaraskan diri dengan bekerja dari sendi. Penjual-penjual berganti lapak dari toko ke platform online. Kaum muda-mudi yang sering menghabiskan waktu di kafe-kafe harus tetap berada pada rumah.

Banyak pasangan batal melakukan perhelatan pernikahan sebagai usaha mencegah transmisi virus corona. Menikah tanpa perjamuan yang tadinya tidak biasa siap terasa normal.

Begitupun dengan hal lain yang terlihat kecil perlahan menjelma kebiasaan, seperti menjaga jarak satu, 5 – 2 meter, mencuci tangan pakai sabun, mengenakan masker, jangan memegang wajah atau langsung berganti baju dan mandi zaman pulang dari bepergian.

Terbiasa dengan kehidupan new normal ini bisa disebut sebagai keharusan. Ini juga menetapi vaksin penangkal Covid-19 belum ditemukan.

PSBB Dilonggarkan atau Dicabut

Bilapun PSBB dicabut atau dilonggarkan, kita tetap harus melakukan pencegahan transmisi coronavirus. Semua orang seakan-akan harus menjalani kehidupan baru yang aman untuk berinteraksi, bekerja, dan melayani rutinitas harian.

Psikolog klinis yang serupa penulis buku The Psychology of Pandemics Steven Taylor menyebutkan bahwa kita mungkin tidak akan benar-benar kembali ke keadaan normal.
Menurutnya, psikologis kita akan terbiasa menjaga diri dari risiko tertular dan merasa aman dengan cara hidup baru ini.  

Mungkin sebagian dari kita masih sulit menyambut dan beradaptasi dengan keadaan. Beberapa lainnya masih mencari cara untuk bisa beraktivitas secara maksimal secara menerapkan physical distancing sebagaimana yang dianjurkan.

Tidak perlu khawatir jika belum beradaptasi dengan new normal ini, karena kita memang masih pada tengah-tengah perang melawan pandemi Covid-19.

“Cara Anda beradaptasi akan membaik bersamaan waktu. Mayoritas orang akan menemukan cara untuk mengatasinya dan bekerja maju, ” kata ketua perhimpunan psikiater Amerika Joshua Morganstein.

Tahapan Mental yang Membuat Kita Terbiasa secara New Normal

Bagaimana kita perlahan beradaptasi dengan keadaan new normal kelanjutan pandemi Covid-19? Psikiater Amerika Serikat Elizabeth Kubler-Ross menggambarkan kondisi tersebut sama seperti kondisi berduka. Berikut lima tahapan psikologisnya.

1. Penolakan terhadap situasi. Tahap ini akan membawabawa penghindaran, kebingungan, goncangan, atau ketakutan.

2. Marah dengan apa yang terjadi. Tahap ini akan melibatkan perasaan frustrasi, iritasi, dan kecemasan.

3. Tawar-menawar atau berjuang untuk menemukan keterangan dari apa yang terjadi. Di tahap ini, terdapat keharusan memproduksi kesepakatan untuk menyelesaikan rasa penyesalan atau rasa bersalah.

4. Depresi. Tahap ini dapat menimbulkan perasaan kewalahan, tidak berdaya, atau terisolasi.

5. Arahan. Pada tahap ini, seseorang mau mencapai perasaan tenang dan menerima keadaan. Selain itu, penerimaan terhadap keadaan juga membuat pikiran mulai bekerja dan mencari tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya buat beradaptasi dengan keadaan.

Saat seseorang menyentuh tahap penerimaan pada kondisi perdana pandemi Covid-19, ia akan lebih bersedia untuk menerima new lazim dalam kehidupannya.

Masa depan pandemi tersebut memang belum bisa diprediksi. Kebingungan dan stres meningkat, tapi lagak altruisme atau kemurahan hati selalu banyak terjadi.

Banyak individu maupun kelompok saling menawarkan bantuan yang melaksanakan penerimaan pada kondisi new umum akibat pandemi Covid-19 ini semakin mudah. (*)